Cerita Pendek Tentang Cerita Pondok

Oleh : Ramdhani Sastra Negara

“Yang galau biarlah berlalu, karena memaafkan tidak mengurangi wibawa”. ujar Ali kepada sahabatnya, Boim.

Kepulan aroma semerbak kopi panas beradu dengan alunan suara bunyi jangkrik yang khas dan saling bersahutan, sehingga menambah suasana obrolan ringan kedua sahabat ini terasa romantis. Ali dan Boim di malam minggu itu saling bercerita tentang era-era kesombongan masa remaja mereka semasa di asrama.

Ali dan Boim jelas sama-sama mencicipi masa pahit serta getirnya selama enam tahun berproses belajar Islam di pondok pesantren milik Kiai Masbuk.

“Kita Nostalgilaa, Liiii!.” canda Boim. Lantas memberikan sebungkus rokok kretek favorit Ali. Ali tertawa terpingkal-pingkal.

“Kita pernah berada dalam kepungan pasukan metafora ilmu-ilmu agama yang sangat mempesona. Tetapi tak sekalipun kita gentar serta menyerah. Apalagi sampai kepikiran untuk berhijrah ke sekolah lain seperti sahabat perjuangan kita yang lainnya” cerocos Ali.

“Kita menjalani semua prosesnya. Santri yang menyilaukan langit adalah santri yang sukarela menahan pahitnya menuntut ilmu di bumi”, kata Ali sambil meyeruput kopinya lagi.

“Di mataku, menulis puisi tanpa menyeduh sendu dan risau, bagai menyeruput kopi basi yang telah menjadi dingin. Tidak sedap untuk dicecap” lanjut Ali, sedangkan Boim justru asyik mendengarkan segala hal-hal yang dikatakan oleh Ali sambil mengunyah pisang goreng.

Ali pernah tak sengaja melihat Bang Jay, Pemred di kantornya yang sekaligus sudah dianggap Ali seperti ayahnya sendiri itu nampak begitu gusar. Kini lelaki itu memakai baju putih lusuh, menggenggam kalender tahun lalu yang pada bagian ujungnya telah sobek.

Kini nasehat-nasehatnya merembas menjadi naskah-naskah puisiku. Aku ingat kalimat yang acapkali dikatakannya kepadaku” cerita Ali kepada Boim.

“Perjuangan dengan segala cara tak apa, asalkan demi kemanusiaan.” ujar Ali seraya memegang berkas tebal yang berkas itu merupakan kumpulan tulisan artikel karya Bang Jay.

“Aku tetap melanjutkan tulisan, tak perduli serangan serupa apa nanti yang akan aku hadapi” tegas Ali, kepulan asap rokoknya menyeruak. Pernah ada airku yang jatuh di bahumu. Yang kau duga sebagai tumpahan keputusasaan. Semangatku kini hanya sebatas meraba-raba Kahlil Gibran dan mengusap-ngusap tangan Jalaludin Rumi. Jelas kau tahu itu Bang?” tanya Ali di waktu berdiskusi.

“Usiamu tak mungkin melewati cita-cita, tunggu aku di Andalusia atau bahkan di ujung pulau Nusantara ini”. Ali teringat obrolan bersama Bang Jay sewaktu dikantor.

“Kita tak pernah sopan pada kopiah, hanya doyan mengunyah sajian-sajian menu ceramah. Terkesima lalu merasa sudah kenyang dan menjadi manusia paling paripurna. Namun, kita sama-sama tahu raga kita selalu ditenagai oleh Bismillah, bekal yang selalu kita bawa kemana-mana sedari masih perusahaan media ini seumur jagung.” lanjut Ali agak santai kepada Bang Jay. Sebelum Bang Jay berpamitan untuk mengontrol kantor cabang yang berada di Kota Jogja.

“Berharap pucuk-pucuk hikmah merekah, menjadi hamparan taman buah pengetahuan. Yang syukur-syukur generasi selanjutnya dapat bersemangat untuk merawat serta memberikan manfaat” sahut Boim sambil merangkul bahu sahabat karibnya itu.

Hujan turun deras sekali, basuhan air hujan yang berjatuhan ke bumi menjadi semacam pertanda bahwa setinggi apapun cita-cita, pada akhirnya semua itu akan memberi makna jika tetap tahu tempat kita berpijak.

Tangerang Selatan, 7 Januari 2021.

Ramdhani Sastra Negara, panggil saja Ramdhani. Lahir di Jakarta, 05 Mei 1989. Penulis sangat suka mendengarkan musik bergenre rock dan gemar minum kopi. Kebetulan,  penulis adalah lulusan Program Studi KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) Tahun 2016 di Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta (STAIINDO JAKARTA). Bagi diri penulis, “Menulis bisa menjadikanmu lebih romantis dan humanis.”

Share:

Dawuh Guru

Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.