Buku Saku “Si Petualang Rasa”

Oleh : Ramdhani Sastra Negara

“Niat menjadi teman biasa, malah aku keterusan jatuh cinta”, kataku selepas hujan. Aku senang memperhatikan hujan, karena hujan menguburkan kenangan dengan sekali basuhan. Aroma asa menjadi olahan ‘masakan’ yang menyajikan makanan berkuah penuh hikmah. Kita seringkali beradu argumentasi tentang impian di masa depan. Tetapi kita selalu sepakat, bahwa yang paling utama adalah menjadi bermakna bagi sesama.

Setinggi apa pun mimpi kita kalau hanya untuk memuaskan hasrat eksistensi diri, maka cita-cita itu akan kadaluarsa. Aku tak mau berambisi mendaki puncak gunung strata, aku Lebih memilih menjelajah di hutan belantara. Tak apa gelap gulita, asalkan cahaya fana tak menjadikanku dewana. Biar saja aku habiskan tenaga ekstra demi menuju hutan pengetahuan yang menakutkan sekaligus menawan.

Biar saja aku kehausan dalam perjalanan, semua demi mendapatkan endapan madu ilmu yang manisnya berkepanjangan. “Tersesat saja aku sekalian!” keluhku di dalam hati, lalu menutup pintu logika serapat-rapatnya. Aku enggan membangunkan sesuatu kalau belum kutemukan lentera “Bulan Aksara” yang selama ini terabaikan. Iya, lentera pustaka bertuliskan, “Kaya akan warisan karya”.

Aku lagi-lagi mengeja peta kata, “Iqra.. Bacalah”. Buku saku itu menjadi satu-satunya pedoman selama aku berpetualang menuju jalur taffakur. Ragaku seperti ditenagai mimpi dan intuisi. Tutur literatur yang luhur menjadi bahan bakunya. Cakrawala nabastala sukma memberikan sebuah pesan sederhana, langitkan karya, namun bumikan tata krama. “Akulah si petualang rasa yang kecanduan pada aroma wangi sarat harsa”.

Tangerang Selatan, 20 September 2021.

Ramdhani Sastra Negara, panggil saja Ramdhani. Saya lahir di Jakarta, 05 Mei 1989. Penulis memilik nama pena Ramdhani Sastra Negara. Penulis sangat suka sekali musik bergenre rock dan hobi minum kopi. Kebetulan penulis adalah lulusan Program Studi KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) Tahun 2016 di Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta (STAIINDO JAKARTA). Bagi diri penulis, “Menulis bisa menjadikanmu lebih romantis dan humanis.”

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *