Bisakah Perasaan Di-online-kan?

Oleh: Damhuri Muhammad

“Bisakah situs jaringan pergaulan virtual seperti  facebook yang fenomenal itu menjadi medium komunikasi dari hati ke hati?” demikian pertanyaan yang muncul dalam diskusi bertajuk “Facebook dan Aktualiasi Diri” di Madrasah Filsafat, Tobucil (Bandung) beberapa  tahun lalu. “Apapun bentuk dan modus pergaulan di  dunia maya tidak akan pernah memadai, kecuali nanti bila sudah ada perangkat teknologi yang bisa meng-online-kan perasaan,” begitu sinisme seorang narasumber menanggapinya. Sinisme itu mungkin dapat dimaklumi. Sebab, jangankan pergaulan di ruang virtual—kalaupun itu bisa disebut ruang—pergaulan di dunia senyatanya belum tentu dapat menjadi medium interaksi yang jujur dan berkedalaman. Jangankan topeng, wajah asli pun  kerap menjadi topeng ketimbang menampakkan kesejatian, demikian pesimisme Kobo Abe (1924-1993) lewat novelnya The Face of Another (1967).

Pergaulan di jagat cyberspace yang kini telah menjadi kegandrungan yang sukar dielakkan, alih-alih dapat menyelamatkan para penggunanya dari lubang keterasingan—akibat hilangnya batas antara yang nyata dan yang maya—justru menjerumuskan mereka ke dalam lubang keterasingan baru. Akun  facebook dengan jumlah teman yang mencapai angka ribuan orang, barangkali memang dapat membuat seorang facebook(-er) makin percaya diri lantaran merasa punya pergaulan luas—dari berbagai latar belakang, dan tidak lagi dibatas jarak—dan karena itu, ia merasa tidak perlu lagi bergaul dan berbaur di dunia sebenarnya, tak perlu bertegur-sapa dengan tetangga. Padahal, pergaulan yang dipercayainya sedemikian luas itu hanya terjadi pada saat online. Bagaimana kalau tiba-tiba mati lampu? Atau tiba-tiba koneksi terputus?

Situasi keintiman virtual seperti ini didramatisir oleh pengarang Austria, Daniel Glattauer lewat novelnya Gut gegen Nordwind—edisi Indonesianya Hembus Angin Utara, Jakarta, 2009. Novel itu hanya berisi surat-surat elektronik yang saling berbalas di antara sepasang kekasih virtual; Emmi Rothner dan Leo Leike. Bermula dari  ketaksengajaan Emmi mengetik alamat email yang keliru, hingga pesannya nyasar ke email orang lain. Alamat yang hendak dituju Emmi adalah woerter@like, tapi terkirim ke  woerter@leike, milik lelaki asing bernama Leo Leike. Awalnya hanya obrolan iseng, dari tebak-menebak umur, tinggi badan, hingga nomor sepatu, tapi lambat-laun makin serius hingga masuk ke ranah personal-emosional, sebagaimana lazimnya hubungan asmara di dunia nyata. Tidur Emmi tak nyenyak bila belum membaca email dari Leo, lelaki yang dipercayainya paling ideal di “dunia luar”. Barangkali yang dimaksud “dunia luar” itu adalah dunia di luar kesehariannya dengan Bernhard, suaminya.

Baca Juga:   Abdulrazak Gurnah dan Jangkar Kolonialisme

Lantaran kecanduan pada asmara virtual itu, baik Emmi maupun Leo, enggan untuk “jumpa darat”. Perjumpaan hanya akan memusnahkan semua fantasi yang telah mereka bangun. Kalaupun ada pertemuan, itu hanya dalam rangka menguji ketajaman intuisi masing-masing. Maka, Emmi dan Leo berjanji untuk datang ke sebuah café, di tengah-tengah keramaian kota, tanpa memberitahukan ciri fisik masing-masing. Mereka sama-sama mengandalkan fantasi, dan yakin akan saling menemukan. Alhasil, perjumpaan itu gagal. Emmi bahkan keliru menebak lelaki yang disangkanya Leo. Sementara Leo, bisa mengenal sosok Emmi, meski lewat perantaraan adik perempuannya, yang memang sengaja ia susupkan ke dalam keramaian café itu.

Kisah itu memperlihatkan tipisnya batas antara ruang spasial dan ruang virtual. Peristiwa-peristiwa yang lazim terjadi di jagat maya, juga bisa terjadi di ruang nyata. Emmi benar-benar cemburu selepas membaca email dari Leo, lantaran kekasih imajinernya itu menyebut-nyebut nama Marlene, mantan pacarnya. Begitu pula Leo, yang selalu sinis ketika Emmi menyebut-nyebut nama suaminya. Padahal, Emmi dan Leo belum pernah bertemu-muka. Hubungan asmara itu hanya terjadi lewat surat-surat elektronik, yang makin lama makin membuat mereka abai pada orang-orang terdekat. Bagi Emmi, menaklukkan Leo terasa lebih menantang ketimbang mempertahankan kehangatannya dengan Bernhard. Sementara Leo, lebih gandrung pada Emmi, kekasih virtualnya, ketimbang Marlene, kekasih sejatinya.

Diceritakan, Leo adalah seorang ahli psikologi bahasa yang sedang melakukan riset tentang pengaruh email terhadap perilaku berbahasa. Ini sempat membuat Emmi curiga, jangan-jangan Leo memperlakukan dirinya sebagai kelinci percobaan belaka. Ternyata tidak, Leo pun menganggap hubungannya dengan Emmi  tidak main-main. Setelah surat-menyurat itu dirasakan tidak memadai lagi, Leo bahkan yang pertama kali menelpon Emmi, memberitahukan alamatnya, dan bermohon agar Emmi segera datang. Lagi-lagi perjumpaan yang dinanti-nanti itu batal, sebab Emmi kembali khawatir bila fantasinya tentang Leo akan lenyap selepas bertemu-muka.

Baca Juga:   Jatuh Bangun Bitcoin

Asmara virtual itu mulai terganggu sejak Bernhard diam-diam menghubungi Leo lewat alamat email yang sama. Ia memberi kesempatan pada Leo untuk bertemu Emmi, istrinya, dan menikmati pertemuan itu sepuasnya, asalkan setelah itu Leo menyudahi perselingkuhannya. Inilah yang membuat Leo tiba-tiba berencana untuk pindah ke kota lain. Sementara Emmi terus-menerus memohon agar Leo berkenan memberinya kesempatan bertemu, meski hanya sekali. Di sinilah puncak ketegangan antara dunia fantasi dan dunia nyata. Ekspektasi pada perjumpaan yang menegangkan itu hampir-hampir terpenuhi, meski dengan risiko; riwayat asmara Emmi-Leo bakal sudah sampai di situ.

“Selamat bersenang-senang, Emmi,” kata Bernhard. Emmi terperangah. Seumur-umur suaminya itu memanggilnya “Emma”, kenapa tiba-tiba ia menyebut “Emmi”? Rencana pertemuannya dengan Leo buyar. Bernhard ternyata telah mengetahui hubungan ganjil Emmi-Leo. Semua fantasinya tentang lelaki “dunia luar” itu telah tersingkap. Emmi mengaggap perjumpaan dengan Leo akan sia-sia. Ia kembali menulis email, seperti biasa. Namun, inbox email Leo tidak bisa menerima pesan lagi, returned to sender.

Dalam asmara virtual semacam ini, apakah perasaan Emmi-Leo telah berhasil di-online-kan? Sepertinya belum. Mereka tetap menghendaki perjumpaan, interaksi tatap-muka dengan ekpresi dan emosi—sebagaimana dunia Emmi-Bernhard, dunia Leo- Marlene, dan dunia kita sehari-hari. Alih-alih jagat maya berhasil meng-online-kan perasaan, perangkat pergaulan cyberspace malah membuat para penggunanya makin gamang pada perjumpaan…

 

DAMHURI MUHAMMAD

Kolumnis

 

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.