Berguru Dari Cinta Farazdaq Kepada Rasulullah

Oleh : Mambaul Athiyah

Sewaktu kuliah dulu, ketika meja kami dipenuhi syair Farazdaq yang rajin mengkritik pesohor Islam zaman itu, dosen saya berkata, “Farazdaq menyelamatkan Bahasa Arab dari kepunahan.” Agaknya kata itu tidak berlebihan mengingat Farazdaq memang penyair ulung zaman kekhalifahan Islam yang diksinya begitu indah, sikap lakunya memukau dan … satire-nya tajam.

Farazdaq menolak tunduk menjilat penguasa, dia memilih menaburkan garam dalam kata-kata indahnya sehingga membuat banyak penguasa berusaha membungkamnya. Mulai dari usaha memenjarakan sampai memojokkan Farazdaq dengan citra pembangkang.

Bukan Farazdaq jika tidak memiliki jurus pamungkas untuk menepis segala prasangka. Pada akhirnya, penguasa malas berurusan dengannya dan membiarkan kritiknya dalam syair-syair puisinya. Tercatat Marwan 1, hingga Hisyam bin Abdul Malik pernah menentang keras syair-syair Farazdaq.

Bernama asli Hammam bin Ghalib Abu Firas, Farazdaq merupakan anggota Bani Tamim yang terhormat. Ayahnya adalah pemuka Bani Tamim sedangkan ibunya berasal dari suku Dabbah. Kakeknya yang bernama Sa’sa’ adalah pemuka Badui yang tersohor. Bertempat tinggal di Bashra, Abu Firas yang kemudian dalam Bahasa Arab ditulis Farazdaq sangat rajin menunaikan ibadah haji.

Suatu ketika, beliau pernah berjumpa sahabat Husain sebelum tragedi Karbala. Kekhawatiran Farazdaq membuatnya menghampiri Husain dan menanyakan kemungkinan kekalahannya di medan perang. Apa jawab Sahabat Husain?

“Semua hidup dan mati saya adalah di tangan Allah. Jika peperangan ini ditakdirkan memerangi kebatilan maka saya rela jika harus meregang nyawa.”

Akhirnya, Karbala mencatat peperangan paling keji sepanjang zaman kekhalifahan Islam. Kepala yang selalu dicium Rasulullah ketika kecil itu dipenggal oleh pasukan Yazid dan membuat alam menangis berhari-hari. Menuliskan ini pun hati daku serasa tercabik, Men.

Baca Juga:   Ibn Haitham sebagai Bapak Optik Modern

Wallahu A’lam siapa yang paling benar dalam sejarah Karbala itu.

Waktu berselang, Farazdaq masih aktif menyuarakan syair-syairnya. Hingga beliau kembali menunaikan ibadah haji di mana saat itu beliau bersamaan dengan iringan rombongan Hisyam bin Abdul Malik Khalifah Bani Umayyah yang menerobos kerumunan jamaah untuk mencoba mencium hajar Aswad.

Apa hal yang terjadi, Men?

Rombongan Hisyam yang merupakan penguasa besar di Arab ternyata tidak mampu membuatnya menembus kerumunan. Hisyam terlempar dari dekat Hajar Aswad dan memutuskan untuk beristirahat. Sembari duduk di kursi tinggi Hisyam memperhatikan sesuatu yang nampak aneh di matanya.

Ketika seorang biasa dan sederhana begitu mudahnya berjalan mendekat Hajar Aswad. Ketika dia tiba, kerumunan seolah terbelah bak sungai Nil yang dipukul dengan tongkat Nabi Musa. Sehingga lelaki tadi berhasil mendekat, kemudian mencium Hajar Aswad dengan mudahnya.

Dialah Ali Zainal Abidin. Putra Husein bin Ali. Melihat itu semua yang mengikuti rombongan Hisyam terpana. Mereka bertanya-tanya siapakah gerangan?

Maka Farazdaq menjawab pertanyaan itu dengan syairnya. (Dalam video di bawah ini)

Syair itu mengisahkan bahwa siapakah Ali Zainal Abidin itu?

Beliaulah manusia hidup berhias takwa

Kesuciannya ditentukan fithrahnya

*

*

*

Itulah Ali cucu Rasulullah

*

*

Berasal dari keluarga mulia

*

*

*

Yang bersumber dari keluarganya

Tempat manusia bermandikan cahaya

Mendengar syair Farazdaq, Hisyam pun murka dan mencabut bantuan baitul mal untuk Farazdaq.

Hal inipun diketahui Imam Ali Zainal Abidin yang kemudian memberikan pengganti bantuan Baitul mal kepadanya.

Ucapan Farazdaq memberikan imam Ali sebuah pengajaran. “Aku mensyairkan dirimu bukan karena hasrat upah, melainkan karena

Akidah dan imanku kepada Allah semata-mata.”

Untuk kedua kalinya Imam Ali Zainal Abidin kembali datang kepadanya dan berujar, “Allah mengetahui semua apa yang ada dalam hatimu. Dan tidaklah berkurang pahala dan ganjaranmu tak akan terusik, andaikan engkau menerima bantuanku.” Dengan mempercayai ucapan tersebut akhirnya Farazdaq menerima pemberian Imam Ali Zainal Abidin.

Baca Juga:   Implementasi Sila ke-3 Pancasila dalam Kehidupan di Indonesia

Syahdan kisah Farazdaq yang lainnya telah sangat mahsyur dikenal. Bagaimana beliau dipotong lidahnya karena menyenandungkan pujian di hadapan makam Rasulullah ketika berhaji. Kala itu dia bertemu dengan seorang lelaki Arab yang mengajaknya bertandang ke rumahnya. Beliau ternyata dipotong lidahnya di rumah itu kemudian beliau menangis di hadapan makam Rasulullah. Mengutarakan maksudnya dan bertanya apakah Rasulullah murka karena syairnya? Farazdaq menangis hingga tertidur. Dalam mimpinya Farazdaq berjumpa Rasulullah yang menyukai syair pujiannya. Beliau pun memberikan Farazdaq keistimewaan dengan meminta potongan lidahnya yang kemudian disambung kembali oleh Rasulullah. Begitu terbangun, Farazdaq tidak percaya dan mensyukuri nikmat itu beribu-ribu kali sesudahnya karena bisa kembali berbicara.

Sementara orang yang memotong lidahnya dikutuk Allah menjadi kera besar yang dikurung di dalam rumahnya. Wallahu A’lam.

Sebegitu cintanya Farazdaq kepada Rasulullah, syair-syairnya dibuat untuk yang terkasih dan mengembalikan identitas dirinya sebagai seorang penyair ulung yang mencintai Nabinya seutuh hati.

Semoga bisa menambah wawasan ya. Mengambil yang bagus dan menyaring sisanya, siapa takut ….

Mambaul Athiyah

Penulis, Penikmat Sastra, Alumnus Bahasa dan Sastra Arab.

Share:

Dawuh Guru

Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.