BELAJAR KEPADA RATU MEHRUNNISA

Wanita India itu cantik luar biasa, loyal dan sanggup membuat pria melakukan apapun untuk istrinya. Setidaknya itulah yang sering kita lihat dalam film dan serial India dari Bollywood. Bagaimana tidak? Hampir 4 abad yang lalu di sana sudah berdiri Taj Mahal. Monumen yang dibangun oleh Shah Jahan itu terkenal di seluruh dunia sebagai tempat disemayamkannya tubuh dan diabadikannya memori dari Arjumand Banu atau lebih dikenal sebagai Ratu Mumtaz Mahal.
Yang kurang diketahui oleh khalayak tentang kisah kehidupan dan romansa luar biasa India adalah tentang bibi Arjumand dan ibu tiri Shah Jahan, Ratu Mehrunnisa atau lebih dikenal dengan gelarnya Noor Jahan. Mehrunnisa adalah tokoh penting dalam sejarah India meski sering hanya di singgung secara singkat biasanya sebagai istri Sultan Jahangir. Kisahnya paling tidak sudah diceritakan dalam 8 film, panggung pertunjukan dan buku roman sejarah.

Saya diberi kesempatan untuk mengenal Mehrunnisa dari suatu novel karangan Indu sundaresan yang mengangkat kisah cintanya dengan sang Sultan. Sama seperti banyak orang lain yang sebelumnya hanya mengenal Taj Mahal, sosok satu ini kemudian terus memukau saya karena kiprahnya.
Seperti dalam buku Empress karya Rubi Lal, ia dituliskan sebagai “a gold digger and schemer”. Semua hal akan Mehrunnisa lakukan agar ia bisa menguasai kerajaan. Dikisahkan bahwa ia berhasil membuat Jahangir menjadi pemabuk, pemadat dan pria gila seks.

“Jahangir mungkin saja membawa wanita itu kedalam harem dan menyimpannya disana seperti salah satu dari selir yang lain tetapi sang wanita ambisius menolak. Cinta kembali menyiksa hati Sang Raja dengan bertubi-tubi konon berkat bantuan ilmu sihir…” Edward Grey, editor buku The travels of pietro delavalle in India.

Ketika masa pemerintahan Shah Jahan maka ia diceritakan sebagai wanita yang keji, kejam dan pemberontak tradisi. Jika tulisan tersebut dibuat pada masa pemerintahan Sultan Jahangir -berarti juga pada masa Noor Jahan berkuasa maka tulisan-tulisan tersebut bernada menyanjung penuh pujian. Membaca ihwal Mehrunisa adalah perjalanan literasi dari satu titik ekstrim ke titik ekstrem lain tergantung oleh siapa dan kapan tulisan itu dibuat.

Saat ini 375 tahun setelah ia meninggal yang saya dapati adalah pencapaian luar biasa seorang wanita yang melampaui zamannya bahkan mirip dengan para feminis dan womanpreneur abad 20. Dia mendesain banyak taman, sarai dan makam-makam Indah yang kemudian menjadi contoh untuk Taj Mahal. Dia adalah pemburu macan yang hebat dan penembak yang jitu. Dia adalah prajurit yang cakap hingga merencanakan operasi penyelamatan suaminya dari penculikan dan dia juga adalah lawan yang tangguh dalam perpolitikan dinasti Mughal yang kejam -di mana para pangeran memberontak melawan ayahnya dan pembunuhan sesama saudara dianggap hal yang biasa.

Pencapaian Mehrunnisa dikecilkan karena dua alasan; yang pertama adalah sejarah ditulis oleh para pemenang -dan karena Nur Jahan kehilangan pendukung utamanya ketika jahangir meninggal, dia kalah dari Shah Jahan. Untuk menghapusnya dari sejarah Shah Jahan bahkan mencoba untuk menarik koin-koin mata uang yang bertuliskan namanya dari peredaran. Tentu saja para penulis resmi kerajaan pada masa Shah Jahan akan menuruti sultan baru sehingga mengaburkan semua pencapaiannya dan menyalahkan pemerintahannya atas semua kekacauan yang terjadi pada masa akhir pemerintahan Sultan Jahangir.
Alasan kedua adalah bahwa Mehrunnisa adalah seorang wanita. Statusnya sebagai seorang wanita itulah -sesuai petunjuk perlakuan umum di antara para bangsawan Mughal bahwa para wanita “sebaiknya tidak terlihat… dianggap tidak ada, tapi karena telah lahir maka lebih baik dia dinikahkan atau dikuburkan…”

Salah satu contoh paling menggelikan dari bagaimana perlakuan kepada wanita era ini adalah ketika Bibi Sultan Jahangir ingin melaksanakan haji maka Sultan memerintahkan agar salah satu adiknya yang berumur 6 tahun untuk menjaga dan bertanggung jawab atas bibi mereka. seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa dianggap sudah pantas untuk bertanggung jawab dan menjaga wanita paling senior di keluarga kerajaan dan bukan sebaliknya sang wanita dewasa yang berkompeten menjaga anak kecil tersebut.

Mehrunnisa lahir hanya beberapa dekade setelah Ratu Elizabeth I dari Inggris namun dia memerintah teritori yang jauh lebih luas dan kaya dari pada sesama Ratu tersebut. Dia juga satu-satunya wanita pemegang tampuk kekuasaan India sebelum Ratu Victoria dan Indira Gandhi. Ini menunjukkan betapa luar biasa kemampuannya.

Banyak sejarawan yang menyatakan bahwa Sultan jahangir adalah seorang pemabuk pemadat dan tidak kompeten. Karena itulah dia menyerahkan kekuasaannya kepada istrinya yang paling dicintai. Tapi bukan karena itu Nurjahan menjadi seorang penguasa yang hebat faktanya mereka saling melengkapi dan sang raja tidak pernah merasa nyaman tanpa istrinya bertindak sebagai co-sovereign. Tanpa Mehrunnisa yang memegang erat tahta dan memastikan negara berlangsung tanpa banyak gangguan ketika hari-hari Jahangir tak berdaya, takkan ada lanjutan era keemasan Mughal yang penuh pencapaian bidang seni, fashion dan arsitektur.

“Mehr ul Nisa adalah wanita berjiwa angkuh… untuk menghidupi dirinya serta para budak dengan lebih layak, dia menciptakan aneka ragam permadani dan sulaman berselera tinggi yang mengagumkan, melukis sutra dengan perincian luar biasa dan menciptakan segala pernak-pernik wanita” Alexander Dow, the History of Hindustan

Dengan posisi sebagai wakil penguasa itulah Mehrunnisa juga melakukan hal-hal yang sebelumnya tabu sebagai seorang wanita. salah satu buku menceritakan suatu kejadian di mana dia melakukan jharoka i darshan. Muncul di balkon kerajaan -yang biasanya hanya diperuntukkan bagi para sultan agar menunjukkan diri di hadapan rakyat dan sebagai tanda bahwa mereka baik-baik saja.

Itu bukan satu-satunya pelanggaran tradisi dan protokol yang dilakukan oleh Ratu nurjahan. Ia juga pernah menunjukkan muka didepan pejabat kesultanan tanpa memakai cadar -simbol status dan kehormatan wanita saat itu. Peran serta dalam politik, keunikan cara hidupnya dan intrik perebutan kekuasaan inilah yang kemudian membatasi peran serta wanita mundur jauh kembali hanya pada sebatas peran kedermawanan di masa pemerintahan sultan berikutnya. Karena begitu besarnya Noor Jahan berpengaruh dan bertindak hampir-hampir Arjuman Banu tidak bisa melakukan apa-apa di ruang publik tanpa ada bangsawan mengingatkannya “ini terlalu seperti mantan Ratu”.

Belajar pada Mehrunnisa, 375 tahun setelah ia tiada adalah belajar memanfaatkan semua potensi diri, mengambil resiko dan tanpa takut berani memutuskan yang terbaik. Tidak peduli ia berakhir diasingkan atau dijelek-jelekkan, namun suatu hari akan ada yang menghargai semua usahanya.

 

penulis Aida adalah khodimah YPM Miftahul Ulum Pacarpeluk Jombang

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *