Belajar Berjuang Kekinian dari Falsafah Sumpah Pemuda

Dawuh Guru

Baru saja kita melewati hari sumpah pemuda. Ada banyak even diselengarakan oleh beragam pihak dan institusi untuk memperingati momen bersejarah tersebut. E-brosur dan pamflet berisikan even kompetisi kreatif dan konferensi bertemakan kepemudaan bertebaran secara online di media sosial. Dari sekian kita yang menjadi konsumen informasi, tak sedikit yang berkontribusi aktif mengikuti even itu, bahkan menjadi pelopor pembuat aksi kepemudaan. Banyak juga yang hanya berpartisipasi dengan cukup menggerakkan jempolnya untuk meninggalkan jejak ‘like’ di postingan Instagram tersebut. Namun juga masih lebih banyak yang acuh, pasif, memilih untuk #mager dengan aktifitas yang lain.

Yaah… zaman sekarang memang begitu cepat berubah. Kita bisa mengakses informasi dari mana pun kita mau. Sadar atau tidak, gerakan kita masa kinisedikit banyak dipengaruhi oleh barang digital bernama sosial media. Tak heran, konsumen gadget dan sosmed dikenal dengan generasi kekinian. Bagi yang tak bergadget dibilang gaptek, yang tak bersosmed disebut kudet.Hampir seluruh pemuda sekarang sudah punya gadget dan sosmed.

Di lain pintu, agak miris juga membaca berita terbaru bahwa Rumah Sakit Jiwa kini sedang kebanjiran pasien anak-anak dan remaja karena alasan kecanduan gadget dan game online. Padahal mereka masih muda, masih punya masa depan panjang untuk dijalani. Mereka pulalah yang kelak menggantikan masa tua kita untuk menghidupi negara kita tercinta. Tentu saja, pembimbingan dan penanganan serta support dari berbagai pihak harus terus ditingkatkan, termasuk kita. Siapa yang senang jika Indonesia 20 tahun lagi malah dipenuhi dengan mereka yang sakit jiwa gara-gara ‘kaget’ menjadi generasi kekinian yang salah jalan di masa yang paling terkini? Oleh karena itu, kita hendaknya istiqomah untuk terus berjuang bersama-sama mengaplikasikan dan menjunjung falsafah sumpah pemuda yang telah diwariskan kepada kita.Tentang tekad untuk terus mencintai negara kita. Ibarat kita mencintai seseorang, kita akan berusaha menyenangkannya, memberikan apapun yang dia butuhkan, sekalipun usaha dilakukan tanpa pencitraan.

Kalau kita mau kembali belajar, bahwa Allah menciptakan kita, para manusia yang mulia sebagai pemimpin di bumi ini dengan kelebihan pada akal pikirnya. Jadi setiap kita sebenarnya adalah pemimpin, minimal atas diri kita sendiri. Setiap dari kita adalah pejuang yang gigih atas diri kita sendiri, gigih membawa amanah atas kepemimpinan yang diembankan kepada kita, yang semuanya akan dipertanggung jawabkan di lain masa. Nah tapi, kalau sudah kena gangguan jiwa, hilanglah kelebihan yang dimilikinya untuk bisa mengemban amanah sebagai khalifah dengan sebaik mungkin.

Perubahan zaman yang bisa membuat para pemuda makin edan ini juga membutuhkan perjuangan kekinian untuk setidaknya meminimalisir terjadinya kegilaan massal tersebut. Secara fasilitatif, berjuang kekinian bisa dengan mengikuti arus peradaban terkini, memanfaatkan media digital yang ada dengan sewajarnya namun juga sebaik mungkin. Apapun bentuk perjuangan itu, sebagai wujud pencegahan dan penanganan masalah, atau pengembangan inovasi-inovasi tertentu. Namun secara esensi epistemologis, lebih dari itu. Berjuang kekinian bermakna berjuang secara dzohir dan batin. Perjuangan sebagai sebuah predikat untuk menyeimbangkan kedua tali penghubung, yakni hablun-min-Allah (hubungan dengan Allah) dan hablun-min-annaas(hubungan dengan manusia). Karena tak sedikit pula dari kita yang justru demi mengejar ketertinggalan dunia, hubungan dengan Tuhan menjadi kurang baik. Shalat jadi nanti-nanti, masjid jarang dikunjungi, kitab suci bahkan hanya terpajang rapi. Lebih parahnya lagi, ada yang sudah begitu, makin sombong pula sehingga akhirnya merusak hubungan dengan sesama manusia. Semacam itulah gurauan dunia.

 

Sebenarnya banyak jalan untuk bisa berkontribusi, tidak harus ketika negara dilanda masalah besar, semuanya turun ke jalan. Kontribusi bisa dilakukan di berbagai tempat. Tak harus di sebuah pertemuan konferensi internasional, tak harus semua studi ke luar negeri, tak harus turun ke desa-desa, tak semua harus mengajar jadi dosen di kampus, tak harus sibuk di start-up. Dimana pun kita berada, jadikanlah itu sebagai medan juang kita.

Yang perlu ditekankan adalah, bahwasanya kita jangan terus terkecoh dengan zona nyaman dunia maya. Kita harus terus bergerak secara dinamis untuk lebih peduli dengan adik-adik kita, anak-anak kita, generasi penerus kita. Perilaku profesionalisme kita akan menginspirasi mereka untuk bertindak secara profesional juga.Lebih jauh lagi, kerja pemuda itu bukan hanya melahirkan gagasan atau memikirkan persoalan-persoalan, tapi juga mengupayakan perubahan. Pemuda hendaknya bukan hanya urun angan, tapi juga turun tangan, karena masa depan negara kita tergantung kondisi kita hari ini. Terlebih lagi kita memiliki bonus demografi dari Allah, yang bisa menjadi bencana atau anugerah sekaligus. Ya, menjadi bencana jika SDM-SDM bibit baru ini terus kecanduan gadget, game dan sosial media, pasif dan tidak berkualitas, yang akan terus menjadi ledakan pengangguran. Atau sebaliknya, bisa menjadi anugerah kalau SDM-SDM itu adalah mereka yang berkualitas yang bisa membantu negara ini, bahkan membantu dunia yang hari ini sedang terseok-seok.

Memang, tidak ada yang mudah dalam proses berjuang, sebagaimana tak ada yang instan untuk meraih kesuksesan. Namun, setidaknya dengan ini kita sudah bertekad bulat bahwa menjadi bagian dari Indonesia, berarti harus turut mencintainya sepenuh hati. Dan wujud kecintaan itu harus direalisasikan dengan berkontribusipositif untuk masa depan negara kita yang lebih baik, juga demi keberlanjutan generasi penerus kita. Berjuanglah dengan cinta Ilahi, agar kita dapatkan hasil yang prestatif dan kontributif selama-lamanya.

Wallahu a’lam.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *