Pe.san.tren /pêsantrèn/ asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji dan sebagainya; pondok. Pesantren sekarang tidak hanya belajar mengaji kitab kuning tapi sudah meluas seperti halnya sekolah negeri pada umumnya. Pesantren punya ciri khasnya sendiri untuk membekali para santri baik ilmu umum, ilmu agama, dan ilmu bermasyarakat.

Para kiai mendidik santrinya dengan luar biasa dalam hal adab atau sopan santun, seperti menundukan kepala sebagai bentuk ta’dzim kepada guru, mencium tangan kepada guru, dan jika berbicara dengan guru atau orang tua mereka merendahkan nada dan intonasi suara. Semuanya tertata dengan baik karena santri sendiri sudah diajarkan adab kepada yang lebih tua hingga kepada guru yang merupakan sumber ilmu yang harus dihormati, disayangi, dijaga dan dijadikan panutan untuk mendapatkan barokah serta manfaat dari ilmu tersebut.

Di balik ta’dzim santri yang luar biasa ada doa para kiai yang mendoakan santrinya, di Pesantren tidak hanya terjadi kontak fisik (baca: belajar dan mengajar) tapi juga ada kontak batin (baca: saling mendoakan) jadi hampir bahkan tidak pernah santri itu ada masalah apalagi dendam kepada guru/kiainya meskipun sering di takzir (dihukum) karena melanggar peraturan pondok. Itulah perbedaan dunia pendidikan pesantren dan umum.

Orang tua yang memondokkan anaknya pasti menginginkan anaknya lebih baik dan berguna di dunia dan di akhirat. Terlepas dari pantauan orang tua, sebenarnya santri bisa mbalelo (nyleweng) tapi guru dan kiai sering mengingatkan untuk apa mereka berada disini dan kenapa orang tuanya memondokkan mereka ?

Salah satu dawuh e Mbah Yai Anwar Manshur, Lirboyo yang mengingatkan para santri, “Orang yang mengaji kalau tidak tekun tidak bisa. Jadi, syaratnya orang yang mengaji itu belajar dengan sungguh-sungguh nanti akan mengerti. Kalau mengaji tidak pernah dipelajari, tidak pernah dilihat, ya jangan berharap untuk bisa. Jadi harus bersungguh-sungguh. Orang mencari ilmu kok tidak pernah dipelajari lagi berharaplah untuk mendpatkan hasil kalau sudah ada gagak beruban. Gagak selama hidup tidak ada yang beruban. Matipun juga hitam jadi tidak akan mendapatkan hasil. Oleh karena itu yang mempeng (rajin) ketika masih dipondok. Anda diberangkatkan orang tua ke Pondok hanya untuk mengaji ya kan ? anda diberi uang saku oleh orang tua anda itu untuk bekal ngaji tidak untuk yang lain. Anda harus ingat hal ini, orang tua memberi uang saku anda untuk mengaji. Alhamdulillah, anda harus bersyukur kepada Allah Ta’ala anda bisa ngaji, bisa mencari ilmu yang menjadi kewajiban kita. Betapa banyak orang yang ingin mondok tapi tidak bisa tapi anda diberi anungerah untuk bisa, mari syukuri seraya menekuninya dengan sungguh-sungguh ya”. Begitulah dawuh beliau.

Ada beberapa pesantren yang tidak hanya belajar mengaji, mengupas kitab kuning, dan belajar ilmu umum. Tapi ada beberapa pesantren yang memberikan kesempatan santrinya untuk belajar bertani, berkebun, berdagang, berternak dan mengajar anak-anak mengaji “Alif-Ba-Ta”. Semua itu adalah tahapan-tahapan persiapan untuk menghadapi dunia diluar Pesantren. Bagaimana susahnya bekerja di sawah ?, bagaimana berinteraksi yang baik dengan orang-orang ?, bagaimana memanajemen waktu bekerja dan ibadah ?, bagaimana tetap bersyukur, bersabar, dan terus berikhtiar ketika mempunyai masalah dalam pekerjaan ? dan masih banyak lainnya.

Santri dituntut menjadi “wong cilik” punya daya tahan yang tangguh ketika diposisi dibawah seperti dawuhnya KH. Zainuddin (Mojosari, Nganjuk), yang dikutip KH. Abdul Aziz Manshur “Setiap ada santri pamit boyong ingin pulang ke rumah, KH. Zainuddin (Mojosari, Nganjuk) selalu berpesan,“Mondok pirang-pirang tahun, mulih kudu wani mlarat”. Kiai Zainuddin ingin menanamkan prinsip agar seorang santri harus berani menghadapi situasi apapun.

Tentu berat untuk menjadi lulusan seorang santri yang tidak hanya menjaga almamater pesantrennya saja tapi juga menjaga ilmunya, sungguh sangat ironi jika sudah mboyong (baca: meninggalkan pondok) mereka tidak mampu menjadi imam masjid, mimpin tahlilan, tidak mau ikut khataman, tidak berani mengisi khutbah atau mengisi pengajian. Kalau dibilang tawadu’ itu salah tempat karena lingkungan butuh dan santri harus menunjukan atau mengajarkan keilmuannya saat menimba ilmu di pesantren.

Terdapat kutipan “Nyantri tidak harus menjadi Yai”, kutipan tersebut ada benarnya karena di pesantren mempelajari banyak hal. Jadi, hal yang umum jika santri menjadi yai karena idola para santri tentu gurunya dan sebuah hal yang menarik juga jika santri tidak menjadi yai tapi masih menghormati yainya, sering sowan, dan tidak lupa akan pesantrennya serta terus berdakwah diluar lingkungan pesantren.

No more articles