Barokatologi Saat Nyantri

Barangkali seperti saat ini, sudah jarang kita temui murid – murid yang ingin mendapatkan barokah dari guru, dan para kyainya. Mayoritas dari anak – anak zaman sekarang belajar hanya untuk mendapatkan ilmu yang akhirnya digunakan untuk mendapatkan gelar dan jabatan di masa depannya. Padahal, esensi dalam menuntut ilmu itu sebenarnya bukan hanya tentang mendapatkan ilmu sebanyak – banyaknya. Tapi juga mendapatkan ridho dan barokah dari gurunya. Tidak seberapa penting jabatan yang didapatkan di masa depan, tapi kalau ilmunya tidak barokah, maka tidak akan berbuah.

Dulu, saat saya nyantri sampai sekarang. Masih selalu terngiang di telinga saya. Bahwa ilmu yang tidak diamalkan, sama seperti pohon yang tidak berbuah. Al ‘ilmu bilaa amalin, ka-sy-syajari bilaa tsamarin. Setiap dari orang yang berilmu, wajib untuk mengamalkan kepada murid – muridnya. Sebenarnya ini bukan selalu menuju bahwa setiap dari kita harus mengajar di surau – surau kecil, ataupun mengajar di sekolah, pondok dan lain sebagainya. Mengamalkan ilmu itu bebas, tidak pernah dibatasi tempat dan saat (waktu). Asalkan niat kita untuk mengamalkan dan mengajarkannya sepenuh hati, maka akan berbuah dan bermanfaat. Di rumah, ataupun di kantor sebagai pegawai negeri, ataupun pejabat dan lain sebagainya.

Miris sebetulnya, melihat pemandangan – pemandangan seperti saat ini. Terkadang ilmu – ilmu yang telah kita pelajari selama bertahun – tahun, tidak hanya di pondok saat kita nyantri, ataupun di sekolah, tempat kita mengaji, dan lain sebagainya belum bisa kita manfaatkan sepenuhnya. Ilmu – ilmu yang tidak bermanfaat mungkin bisa menguntungkan diri sendiri, tapi tentu ilmu – ilmu itu akan jadi membahayakan bagi orang lain. Adapun ilmu – ilmu yang jelas membahayakan orang lain, bisa jadi juga lama – lama akan membahayakan dalam diri kita masing – masing.

Menjadi santri, tidak selamanya menjadi orang yang sholeh dan bermanfaat. Semua memang tergantung dari diri kita masing – masing yang menjalani masa pengabdian kami sebagai santri. Banyak santri – santri yang menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya, dipercaya oleh masyarakat. Menjadi muballigh dan muballighah di kampungnya, minimal menjadi guru – guru ngaji di desanya, atau bisa jadi menjadi kyai – kyai, pemuka agama di daerahnya. Mungkin ini dikatakan lumrah. Tapi sebenarnya ada banyak juga, santri yang bisa menjadi penulis, atau pegawai, pejabat negara, pemimpin – pemimpin di organisasi masyarakat atau bahkan seperti Gus Dur yang menjabat sebagai presiden. Santri itu ada di mana – mana. Karena sebenarnya, pesantren adalah native indegenious, native cultural atau budaya yang asli dan khas di Indonesia.

Tetapi, pernahkah kita melihat di sisi lain. Bahwa ternyata ada banyak juga santri – santri yang lebih gila dari itu. Ternyata ada juga santri – santri yang tidak menjadi apa – apa ketika sudah terjun di masyarakat. Ada banyak santri yang malah justru menjadi penjahat, pemberontak dan itu bertebaran banyak sekali. Ada juga yang sering dikatakan ekstrimis, liberalis, pluralis dan lain sebagainya. Banyak juga yang menjual agamanya, imu – ilmunya hanya untuk kepentingan pribadi, kepentingan suatu organisasi, bahkan juga diluar dari itu semua. Jangan kira, bahwa semua santri yang sudah menamatkan masa – masa di pesantren juga akan menjadi orang yang alim dan sholeh.

Sebagai contoh, Musso.

Pernahkah kita membaca dan menelaah profilnya sejenak, sebelum kita melihat tayangan film – film G30S/PKI di bulan September lalu? Munawar Muso, atau tidak asing dengan panggilan Musso. Beliau kita kenal dengan pemberontak PKI yang kejam. Pelopor terbentuknya PKI di Indonesia. Orang yang sering kita dengan dengan orang yang tidak punya hati nurani sekalipun. Kiprahnya di dunia komunis sangat berpengaruh, bukan hanya di Indonesia saja, tapi juga dalam kancah dunia Musso sangat berpengaruh.

Jika kita menelaah profil dan biografinya. Munawar Muso pernah tercatat sebagai santri. Ia dikenal dengan santri yang rajin mengaji di kampungnya, Kediri. Musso adalah salah satu anak dari keturunan keluarga Pondok Pesantren di Kediri. Ia dikenal sebagai santri yang cerdas di masa kecilnya, rajin mengaji di Mushalla, dan tentu menjadi santri yang aktif di beberapa organisasi.

Tetapi, mirisnya. Mengapa Musso di masa senjanya, harus membunuh kyai – kyai di beberapa pesantren, mengapa ia harus membumihanguskan santri – santri, menghabisi dan memusnahkan pesantren – pesantren. Mengapa harus memiliki ideologi sekejam itu? Padahal, jika kita kembali kepada masa lalunya ia adalah seorang santri? Bukanlah seharusnya ini kontradiktif? Seharusnya banyak sekali contoh – contoh yang dapat di-tamtsil-kan selain seorang Musso. Banyak pula santri – santri yang kini malah justru berperan pada masalah – masalah yang terjadi di negara kita saat ini.

Apa penyebabnya?

Salah satu penyebabnya adalah, hilangnya barokah dari guru – guru atau ulama yang telah mewariskan ilmu kepada kami. Ilmu – ilmu yang telah didapatkan tidak selamanya barokah, tanpa ridho dari mereka semua. Nilai yang memuaskan, ijazah yang sempurna tidak selalu menjamin kebarokahan dari suatu ilmu yang telah didapat. Ilmu bukanlah kembali untuk ilmu. Tetapi ilmu itu untuk amal, dan kemudian kita jadikan sebagai pedoman di masa depan.

Barokatologi memang tidak akan pernah bisa dijelaskan secara gamblang. Tidak akan pernah jelas bagaimana barokah itu benar – benar kita dapatkan. Yang benar – benar tahu jelas, tentu oleh Maha Pemberi Barakah. Guru – guru dan para ulama’ adalah perantara terbaik untuk mendapatkannya.

Semoga, selama ini ilmu yang sudah kita dapatkan dan miliki juga mendapatkan barakah dari guru – guru kita. Sehingga, ilmu itu bisa bermanfaat dan berguna, bukan hanya berhenti di tangan kita. Tapi juga bagi generasi – generasi kita selanjutnya. Amiin yaa rabbal aalamin.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *