Ayat-ayat Cinta Allah dalam Kitab Suci al-Qur’an untuk Makhluk-nya: Studi Tafsir Pemikiran Tokoh

Ayat-ayat Cinta Allah dalam Kitab Suci al-Qur'an untuk Makhluk-nya Studi Tafsir Pemikiran Tokoh

oleh: Shofi Malia Rohmah

Cinta atau sering kita kenal dengan nama lain rahmat atau kasih sayang, merupakan kata yang sering kali terdengar dan tak asing. Setiap makhluk bahkan memiliki rasa cinta dalam kehidupanya. Hampir tak pernah habis jika mengupas makna cinta. Secara sederhananya, cinta bisa diartikan dengan emosi yang ada pada suatu makhluk yang telah ada secara penciptaanya.

Cinta yang benar akan membawa kebenaran pada pecinta. Sebaliknya cinta yang dimaknai secara salah juga akan membawa perspektif kekeliruan pada dirinya. Karena cinta bukan hanya perihal konteks antara pemuda dan pemudi, atau kata yang diidentikkan dengan perilaku hasrat dan anorma. Melainkan lebih dari itu, yaitu ikatan ke-batiniyah-an yang tak akan pernah bisa dituturkan keindahanya.

Nikmat serta keindahan yang dirasakan pecinta membuat Ikatan cinta tidak hanya terjadi antara makhluk semata. Menurut Prof Quraish Shihab dalam bukunya, “Jawabanya Adalah Cinta: Wawasan Islam tentang Aneka Objek Cinta” Menyebutkan bahwa cinta tidak hanya dimaknai kepada kekasih. Cinta juga bisa kita temukan kepada saudara, kepada keluarga, Ayah, dan Ibu. Kepada Nabi Muhammad SAW dan juga kepada Allah SWT.

Sesoorang tidak akan mengerti bagaimana rasanya cinta sebelum dia sendiri menikmatinya, sebelum dia sendiri merasakan bagaimana nikmatnya bercengkrama dengan Allah dalam shalat dan surat cinta-Nya, yaitu kitab suci Al-Qur’an.

Dalam kitab cinta-Nya, Allah menuliskan beberapa kali mengenai rahmat dan kasih sayang-Nya. Diantaranya dalam surah Maryam ayat 96. Menurut tafsir Ibn katsir mengenai penafsiran ayat tersebut, diriwayatkan dari Imam Ahmad: Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Malaikat Jibril dan berfirman kepadanya, Allah menyukai hamba itu, maka cintailah dia. Kemudian Jibril berseru kepada segenap penduduk langit dan bumi, hingga semuanya mencintai hamba tersebut.

Sungguh Rahmat Allah atas kasih sayang terhadap hamba-Nya tidak dapat dikalahkan oleh apa dan siapapun. Belum berhenti di situ, kita dapat mengambil ibrah rahmat cinta Allah kepada Musa dan Harun, serta hamba-Nya pada umumnya.

Menurut Ibn Katsir dalam surah Taha ayat 21, bahwa Allah telah menguatkan Musa dan menjaganya agar tidak berpaling, karena hanya Allahlah yang menjadi penolong, dan Allah juga yang akan mengembalikan rasa susah dan takut menjadi keadaan semua atas kuasa dan rahmat cinta-Nya.

Dalam ayat lain, Allah juga memperlihatkan bentuk kasih sayang-Nya. Seperti ayat 31, yang memiliki arti:

Teguhkanlah kekuatanku dengan adanya dia. Dan jadikanlah dia temanku dalam urusanku. Agar kami mampu bertasbih dengan-Mu sebanyak-banyaknya.

Meskipun konteksnya Musa terhadap Harun, Namun Allah memberikan kita ibrah agar senantiasa memberikan kasih sayang dan cinta terhadap sesama, seperti Musa dan Harun, serta ayat Rahmat Allah yang lain.

Belum selesai dalam ayat cinta Allah, dalam surah Ar-Rum ayat 19, Allah menegaskan cinta karuni-Nya atas penciptaan yang sempurna untuk haamba-Nya. Atas rahmat dan kasih sayang Allah, Allah menghidupkan bumi dari ketandusanya. Allah mengeluarkan tumbuhan dan biji-bijian sebagai makanan dan penjagaan terhadap makhluk-Nya. Allah juga meniupkan angin agar menyejukkan disaat suasana panas dan terik.

Karena kasih sayang-Nya juga, Allah telah menyediakan dan menempatkan hamba-hamba terkasih-Nya dalam tempat-tempat teristimewa. Semuanya akan merasakan kesentosaan dan dan kemakmuran. Yaitu tempat rumah-rumah kediaman yang indah dan sentosa, aman dan bahagia di dalam surga Jannatun Na’im. Hamba-hamba yang dimaksut ialah hamba yang menjalankan imannya, yang membuktikan amal sholehnya dengan keimanannya.

Itulah ayat-ayat cinta yang telah Allah tuliskan dan abadikan dalam kitab suci Al-Qur’an. Selayaknya seorang hamba, kita juga harus meneladani dan mengamalkan firman Allah dalam keseharian sebagai ibadah terhadap Allah SWT. Karena Iman adalah buah dari ketulusan amal dan kesalehan.

Waalahu a’lamu bimurodihi.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *