Asuh Anak Anti Galau

Sebuah tulisan yang tertera di beranda media sosial sahabat saya, dr. Makna Bhara, lumayan menggelitik untuk direnungkan. Susunan kalimatnya sedikit panjang, tapi intinya adalah bahwa wanita memang senang bersaing dengan sesama kaumnya. Aneka topik yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan seperti ‘ibu bekerja vs ibu rumah tangga’, ‘melahirkan normal vs sesar’, ‘ASI vs Sufor’, dan banyak lainnya sering menjadi bahasan hangat di media sosial. Bisa ditebak peserta diskusi topik-topik tersebut adalah ibu-ibu. Sayangnya, pembahasan yang seru di media sosial sering berakhir jadi perdebatan sengit yang berujung kegalauan bagi ibu yang dianggap memiliki kehidupan ‘tidak ideal’ oleh mayoritas komunitasnya.

Sejalan dengan pendapat di atas, saya pernah terlibat obrolan kecil dengan suami. Beliau pengajar di FKKMK UGM sekaligus staf di Departemen Psikiatri RSUP dr. Sardjito. Menurut beliau cara pikir wanita dan laki-laki sangat jauh berbeda, begitu juga cara mereka menyikapi persaingan. Laki-laki cenderung berlomba dalam bentuk fisik dan hasil yang nyata seperti olahraga atau pencapaian kesuksesan. Sementara wanita lebih ke perlombaan bicara. Membanggakan pencapaian kehidupannya, yang seringkali jatuh ke dalam persaingan yang tidak sehat seperti saling mencela. Silahkan saja dicermati di media sosial, perdebatan tentang ‘kehidupan ideal’ banyak didominasi kaum wanita.

Dua pendapat yang saya kemukakan di atas cocok dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Gordon Parker et.al dalam sebuah jurnal psikiatri internasional yang berjudul “Gender Differences in Depression”. Di situ tertulis bahwa emosi dipengaruhi oleh aktivasi sistem limbik, sebuah bagian pada otak yang berfungsi mengendalikan perasaan. Pada wanita, hiperaktivasi lebih sering terjadi, otomatis membuat emosi lebih mudah terpantik. Paham kan mengapa para wanita sering merasa baper alias gampang galau?

Salah satu hal yang paling sering membuat ibu-ibu ‘bersaing’ adalah tentang tumbuh kembang anak. Jamak kita dengar, entah saat bertemu langsung ataupun sekedar tulisan interaksi di media sosial kalimat “anakku unur sekian beratnya segini, anakmu udah umur segitu kok beratnya cuma segini.” Kalimat lain yang tak kalah sering diucapkan adalah, “Anakku umur segini udah bisa gitu, anakmu kan lebih tua umurnya, masa belum bisa.” Dua jenis kalimat itu dijamin bisa membuat mayoritas emak-emak jadi baper alias galau berkepanjangan.

Sebenarnya tak perlu galau, asalkan kita tahu ilmunya. Tentang pertumbuhan anak, khususnya balita, yang diamati adalah berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Masing-masing individu jelas berbeda, karena tiga hal itu dipengaruhi juga oleh genetik kedua orang tua. Gampangnya, kalau ayah ibunya kecil pendek, ya anaknya kemungkinan besar akan memiliki postur yang mirip dengan kedua orang tuanya. Belum lagi kondisi bayi saat lahir. Bayi prematur yang lahir sebelum waktunya dengan berat badan lahir rendah tentu saja tak bisa dibandingkan pertumbuhannya dengan bayi yang lahir cukup bulan dengan berat badan lahir normal.

Tak perlu risau jika ada yang mengatakan postur anak kita kecil, pendek, atau semacamnya. Patokan pertumbuhan bayi dan balita bukanlah perbandingan dengan teman sebaya, melainkan kurva pertunbuhan yang sudah terstandar internasional. Bisa pakai kurva WHO, CDC, atau yang paling mudah adalah kurva yang tertera pada buku KMS. Sebagai ibu yang hidup di dunia digital, tentunya tak ada alasan untuk tidak belajar. Dengan memahami cara interpretasi kurva, ibu bisa memantau pertumbuhan anaknya. Tak perlu galau jika pergerakan garis pertumbuhan masih dalam batas normal meskipun postur anak tidak segemuk teman-teman sebayanya.

Hal lain yang sering memantik ‘kompetisi’ para ibu-ibu muda adalah kalimat, “Anakku udah bisa gini lho, padahal umurnya baru segini. Kok anakmu yang lahir duluan belum bisa?” Emak mulai galau dan kebingungan mendengar ‘sentilan’ itu. Daripada galau berlarut-larut lebih baik cari ilmunya kan?

Dalam ilmu kedokteran anak, khususnya pediatri sosial, perkembangan anak itu dinilai dengan sebuah tabel standar internasional yang disebut Denver Developmental Screening Test. Kemampuan anak dibagi menjadi empat hal, yaitu motorik kasar, bahasa, adaptif – motorik halus, dan personal sosial. Bisa didownload di internet sekaligus cara interpretasinya. Sangat mudah dan bisa diaplikasikan oleh orang awam non tenaga kesehatan.

Sama dengan pertumbuhan, perkembangan anak sangat bervariasi antar individu. Kemampuan anak tak bisa dibandingkan dengan anak lain, kecuali pada kembar identik yang memang berasal dari sel telur dan sperma yang sama. Jangankan dengan anak lain, saudara kandung pun seringkali memiliki tahapan perkembangan yang berbeda.

Penulis sendiri memiliki dua anak balita perempuan kembar fraternal (berasal dari sperma dan sel telur yang berbeda). Kemampuan mereka berdua jauh dari kata sama. Bahkan sebut saja Melati bisa berjalan di usia 12 bulan, jauh lebih cepat dari Mawar (nama samaran) yang baru bisa jalan di usia hampir 16 bulan. Sebaliknya, kemampuan bahasa Mawar jauh lebih cepat dari Melati. Mawar bisa membaca di usia belum genap 4 tahun, sementara Melati baru sampai tahap perkenalan huruf.

Sedikit tips yang saya dapat saat mengikuti kuliah parenting via grup WhatsApp yang diampu Ning Evi Ghozaly dan Ning Nisaul Kamilah adalah setiap anak istimewa. Tak ada anak nakal, anak bodoh, dan segala cap buruk lainnya. Semua itu karena kita sebagai orang tua yang belum sepenuhnya mendidik anak sesuai dengan potensi yang mereka miliki.

Percayalah, tak ada orang yang suka dibandingkan, begitu juga anak-anak. Batin mereka pasti terluka jika sang ibu selalu menganggapnya ‘tidak bisa apa-apa’ dan memuji anak lain seolah anak orang lain itu tanpa cela. Fokuslah pada kelebihan anak kita dan kembangkan potensinya secara maksimal. Jika ada hal yang mungkin tidak disukai dari anak, jangan langsung mencela. Perbaiki pelan-pelan dengan kalimat yang lembut tentunya. Tak perlu galau berkepanjangan kan? Jadilah ibu yang bahagia, yakinlah anak akan tumbuh dengan potensinya masing-masing.

 

Nur Dhuhania Ahaddina, biasa dipanggil Dina adalah seorang ibu dari dua balita kembar non identik. Profesinya sebagai tenaga kesehatan membuatnya sangat tertarik menulis segala hal yang terkait dunia medis

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *