Anak Nasionalis Itu Bernama Santri

Jika kita sempat untuk menelaah sejarah, manuskrip – manuskrip lama yang menceritakan keteladanan pahlawan dan nenek moyang, orang yang memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia mati – matian. Tak akan pernah dilewatkan, sosok seorang Bung Karno dengan pidato-nya berapi – api. Seorang Bung Hatta dengan kecerdasannya, Panglima Sudirman, Jendral Ahmad Yani dengan jiwa heroiknya. Sempatkanlah pula untuk membaca biografi – biografi singkat HOS Cokroaminoto yang selalu disebut Guru Bangsa. Sisakanlah waktu sejenak untuk membaca profil singkat KH. Agus Salim, akan banyak kita temukan inspirasi – inspirasi dan keteladanan dari jiwa mereka.

Mereka semua termaktub dalam sejarah hitam maupun putih Negara Indonesia dan ditetapkan sebagai pahlawan. Orang yang memperjuangkan, untuk mengharumkan negerinya Indonesia, mereka semua yang mati urip tumpah darah menegakkan bendera Merah Putih setinggi – tingginya agar selalu berkibar di atas hak seluruh bangsa. Jika tanpa jihad dan perjuangannya yang tak henti – hentinya, tidak akan pernah ada upacara yang selalu kita peringati tanggal 17 Agustus setiap tahunnya.

Pernahkah kita berfikir? Siapakah mereka? Bagaimanakah latar belakang kehidupannya? Pernahkah kita membaca berbagai sumber dan referensi yang akurat perihal masa lalunya? Pernahkah kita bertanya – tanya, mengapa mereka semua mempunya jiwa nasionalis yang begitu kuat dan kokoh, tanpa goyah menyuarakan kemerdekaan dalam jiwanya? Agar kelak, kita dan anak cucu dapat meneladani dan mengikuti jejaknya? Mungkin, banyak dari kita akan menjawab pernah. Tak banyak yang menafikan, bahwa kita tak mungkin melupakan jasa – jasa mereka. Hanya segelintir, yang tidak ingin menahu tentang jiwa – jiwa teladan yang selalu terpatri dalam dirinya.

Mungkin, tak banyak yang tahu. Ternyata mayoritas dari pahlawan, dan pejuang di negara kita adalah seorang santri. Seorang santri tentu berbeda dengan kadarnya seorang murid pada umumnya. Tentu berbeda dengan seorang pelajar pada halnya. Tentu berbeda. Santri bukan hanya seorang yang menuntut ilmu seadanya saja. Tidak perlu harus diuraikan secara rinci, siapakah seorang santri. Jika hanya memaknainya secara verbal, kita akan mendapati pemaknaan yang sangat sempit, hingga sempit pula penafsiran dan pengertiannya. Jika ingin tahu, dan mengerti siapakah ia seorang santri? Datanglah ke Pondok Pesantren, tinggallah disana, resapi dan maknai hakikatnya, belajarlah dan ambillah banyak pendidikan dan pelajaran disana. Jika perlu, amalkan ilmu yang telah didapat. Kita akan merasakan dan betul faham, siapakah santri sebenarnya.

Sering kali, kita salah memaknai dan berakhir pada pemahaman yang salah. Santri hanyalah menuntut ilmu di bidang agama. Sedangkan pelajar hanya mempelajari di bidang umum. Hampir seluruh pengertian tentang seorang santri menafsirkan demikian. Padahal untuk mencari ilmu, tidak akan pernah dipisahkan. Menuntut ilmu itu secara keseluruhan, tidak ada yang hanya mempelajari di bidang agama saja, tidak juga hanya di bidang umum saja. Mencari ilmu 100% agama, dan 100% umum. Tidak ada 50% agama, dan sisanya adalah umum. Jika ada yang berorientasi demikian, akan mudah tergerus dan kalap di masa yang akan datang. Karena ilmu akan selalu bertambah dan tidak akan berkurang, jika hanya mencari separuhnya, yang melengkapi adalah perusaknya.

Seorang santri selalu diajarkan untuk membela kebenaran, menuntut keadilan, menjunjung tinggi sebuah perdamaian, amar ma’ruf dan tentu nahi munkar. Sejak kapan, santri tidak mempelajari demikian? Kitab dan bacaan yang selalu menjadi rujukan saja, mengandung suatu kebenaran yang pasti. Al Quran dan Sunnah. Santri selalu diajarkan untuk memerangi kemungkaran, kemunafikan, angkara dan kemurkaan, penjajah dan rasa penjajahan. Jika ada seorang santri yang mengadu domba dan memicu suatu pertengkaran satu sama lain, maka ia adalah komunis, ia adalah munafik, ia adalah penyusup. Dan bibit seperti itulah yang harus dimusnahkan dari muka bumi, agar tidak lahir generasi – genarasi selanjutnya.

Santri tidak akan pernah mengkhianati. Bagaimana ia takut dengan penjajah, jika yang paling pertama ditakuti adalah Tuhannya. Bagaimana ia akan gentar dengan musuh dan lawan, jika dalam hati dan nuraninya adalah kebenaran. Jika ada yang mengelu – elukan dan membuat suatu propaganda bahwa santri tidak nasionalis dan pancasialis, maka orang yang satu – satunya menentang itu adalah yang pertama kali ditumpas.

Anak yang nasionalis itu bernama santri. Jika masih tidak mempercayai, mengapa seorang santri selalu dikatakan menjadi seseorang yang sangat nasionalis. Ingatlah dan hafalkan lagi lagu kebangsaan Republik Indonesia – Indonesia Raya karya WR. Supratman:

Hiduplah tanahku, Hiduplah negeriku

Bangsaku, Rakyatku, semuanya

Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya

Untuk Indonesia Raya.

 

Perlu untuk digarisbawahi di baris bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.Kalau bukan di Pesantren yang menjadi tempat untuk selalu dibakar semangatnya, digelorakan jiwanya, ditempa sanubarinya. Dimanakah kita bisa mendapatkan itu semua, sedangkan Pesantren selalu menjadi tempat semurni – murninya untuk mencari ilmu?

Negara Indonesia ini tidak akan pernah merdeka jiwa dan raganya tanpa juangnya seorang santri. Tak akan pernah terbebas dari belenggu penjajah, tanpa jiwa pelopor utama bangsa. Bung Karno adalah murid dari seorang santri, Bung Hatta adalah seorang santri, Bung Tomo dan orasinya yang menggelegar adalah seorang santri, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Cut Nya’ Dhien dan masih banyak lagi pahlawan – pahlawan yang berlatar belakang menjadi seorang santri sengaja tidak disebutkan dalam buku – buku sejarah yang kita pelajari saat ini. Hanya seorang pelaku sejarah yang tahu dan tentu akan menyuarakan suatu kebenaran bagi siapapun yang memaknai.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *