Al-Muallaqat Sebagai Syair Rujukan Perdamaian

Oleh: Mambaul Athiyah
Asy-Syi’ru diwaanul Arab, begitu semboyan bangsa Arab pra Islam saat belum diangkatnya Muhammad Saw. Sebagai Nabi dan Rasulullah. Mereka sangat suka menggubah syair, melantunkan puisi, menuliskannya dalam perkamen-perkamen bahkan pelepah kurma yang mengering. Di Padang-padang pasir, di bawah tenda-tenda serta di pasar-pasar.
Pasar seni saat itu menjadi lokasi primadona orang Arab untuk bernostalgia. Mereka sangat cerdas tetapi tidak dibarengi dengan akhlak yang baik sehingga saat Islam datang masa mereka menjadi masa jahiliyah secara akhlak. Peradaban dan kecerdasan mereka, hum … jangan ditanya. Kompetisi menulis dan membuat karya sastra menjadi kebudayaan mereka yang adiluhung saat itu. Puisi dan sastra yang dihasilkan menjadi warisan peradaban dan budaya yang dielu-elukan.
Kompetisi syair dan puisi menjadi tingkat penilaian penduduk dalam menganggap seseorang berwibawa atau tidak. Menyanjung kabilahnya akan membuat nama penyair kian tinggi meskipun tidak juga sedikit sastrawan saat itu yang menyindir sering adanya persaingan antar kabilah saat itu. Tema ini relevan sekali dalam menyikapi moderasi beragama yang getol didengungkan sekarang. Bahwa menyelipkan pesan moral tidak melulu lewat dakwah terang-terangan tetapi bisa juga lewat syair puisi yang menyiratkan semua isu moral tadi.
Beberapa karya sastrawan yang namanya menjadi juara dalam peristiwa Muallaqat atau penganugerahan penghargaan tertinggi kepada penyair yang karyanya mampu membius dewan juri serta menbius para penikmat seni itu juga menyuarakan toleransi dan mencegah adu kekerasan antar kabilah. Diantaranya yang paling masyhur adalah Zuhair bin Sulma dan masih banyak lainnya.
Al Muallaqat kemudian menjadi salah satu senjata para penyair untuk mengkritik para pejabat tinggi kabilah yang suka menaklukkan kabilah lainnya yang lebih rendah derajatnya daripada mereka.
Memang, tidak semua karya yang digantungkan di dinding pasar seni itu menyisipkan pesan moral, beberapa juga terkesan vulgar menggambarkan tubuh perempuan serta kenikmatan lainnya tetapi itu bisa dianggap sebagai paket komplit yang memang ada dalam sebuah karya seni.
Al Muallaqat kemudian menjadi acuan bagi penyair sesudahnya untuk membuat diksi menawan yang sama kalau bisa jauh lebih memukau daripada yang awal.
Dengan adanya syair dengan pesan moral yang kuat, menyiratkan bahwa masyarakat Arab pra Islam juga merindukan perubahan. Merasa gerah dengan tekanan saling menjatuhkan antar kabilah, pembunuhan bayi perempuan dalam keadaan hidup-hidup serta budaya mabuk yang dilakukan di lembah-lembah dan Padang-padang pasir.
Sebut saja syair berikut ini yang tergantung di dinding Ka’bah dan tertulis dalam Al Muallaqat,
“Walau engkau selalu memberi dan aku selalu meminta,
Yang meminta tidak akan pernah mendapatkan apa-apa”
Bisa diinterpretasikan bahwa hidup itu adalah take and give. Tidak bisa dan tidak boleh melulu hanya satu sisi. Menyiratkan bahwa kerinduan mereka atas kebersamaan para kabilah menjadi satu adalah cita-cita yang diidamkan dan sangat dimimpikan.
Sesuatu yang akhirnya tercipta saat Rasulullah diutus menjadi utusan Tuhan yang sesungguhnya, mengajarkan syair-syair kehidupan yang begitu humanis, toleran, mengedepankan ukhuwah serta menjaga norma-norma kebaikan melalui ayat-ayat Al-Qur’an yang menautkan segalanya. Bahwa yang ditetapkan akan berjalan sesuai irodat-Nya, bahwa ilmu sastra dan ilmu pengetahuan sesungguhnya saling bertalian dalam menyebarkan pesan perdamaian.
Tergantung siapa yang mendeklamasikan, siapa yang mempuisikan, siapa yang memosisikan, serta siapa yang mendengarkan.
Sehingga dengan ini, syair dalam sastra tidak melulu berisi roman picisan tetapi bisa juga menebarkan pesan kebaikan dan perdamaian.
Salim,
Mambaul Athiyah
Penikmat Sastra, Penulis Novel
Baca Juga:   Ilmu Kalam: Eksistensi Sifat dan Zat Allah Menurut Perspektif dari Muhammad Abduh
Share:

Dawuh Guru

Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.