Oleh: Rekki Zakkia

Habib Umar bin Ahmad Bafaqih begitu dekat dengan keluarga kami, dan masyarakat dusun kami. Masa mudanya banyak dihabiskan di Gedolon-Karang Sanggrahan, Sirahan, Salam, Magelang. Terutama karena kedekatannya dengan Kiai Muhammad Jaelani, hingga akhirnya ayahku Kiai Furqon Kamilin juga ikut serta dalam lintasan perjumpaan itu.

Suatu kali, setelah ayahku meninggal dunia, aku membuka buka koleksi kitab-kitab ayah dan menemukan sebuah surat bertandatangan beliau dan Kiai Muhammad Jaelani yang ditujukan kepada ayah, intinya isi surat itu berisi narasi panjang lebar rencana dan strategi dakwah Islam bersama di desaku. Surat itu bertarikh tahun 1978.

Habib Umar dekat dengan masyarakat, sikapnya yang gapyak, semanak, penuh dengan kelembutan dan keindahan akhlak. Rengkuhannya kepada semua kalangan membuatnya begitu dicintai oleh masyarakat. Habib Ahmad Bafaqih Tempel, ayahandanya, adalah punjer spiritual. Baik kakek maupun ayahku mendekat dan banyak berinteraksi langsung meguru kepada beliau. Hubungan baik itu berlanjut hingga kepada putra-putranya.

Maka, ketika saya lahir, Habib Umar ikut serta tirakatan njagong bayi dalam rangka mendoakanku. Waktu aku kelas satu SD, sekitar 35 tahun silam, banyak ingatan berlintasan, ayah waktu itu membeli tape recorder pemutar kaset, dan alasan utamanya adalah karena Habib Umar ingin belajar Qiraat(lantunan Al Qur’an indah) langsung kepada ayah saya.

Lewat rekaman qiraat yang dibuat oleh ayah dan diajarkan langsung kepada beliau, jadi selama beberapa minggu kerawuhan beliau waktu itu di rumah setiap habis asyar, alunan suara Habib Umar yang begitu merdu dan indah membacakan qiraat Al Qur’an begitu akrab di telingaku, mengisi relung batinku dan tentunya tak pernah bisa saya lupakan hingga kini. (Bahkan saat menulis ini saya ditemani oleh bacaan sholawat barzanji Habib Umar yang ditayangkan di YouTube, otomatis membuatku menarik kembali kepada ingatan-ingatan indah di masa kecil).

Setelah lintasan perjumpaan di masa kecil, seingatku hanya tiga kali akhirnya kami dapat dipertemukan kembali, dan semuanya berkesan :

  1. Di ndalem Kiai Muhammad Jaelani ketika suatu kali lebaran. Karena saya mengeluh bertahun lamanya dada terasa tidak lapang dan kepala sering terasa berat (mungkin karena kondisi batiniah yang tidak prima), saya meminta didoakan, dan juga ditiup dan diusap dada maupun kepala : Alhamdulillah atas izin Allah keluhan itu langsung menghilang hingga saat ini. Tidak pernah terasa kembali hingga sekarang.
  2. Pada waktu Habib Umar kundur umroh sebelum pandemi kemaren, kami serombongan satu kampung sowan minta didoakan. Saya mengira Habib Umar tidak ingat dengan saya, karena minimnya lintasan perjumpaan kami, karena saya duduk di barisan paling belakang berdesakan, Habib Umar tiba-tiba memanggil saya dengan gapyak : “Gus, rene lho ngarep jejer aku”. Sepanjang duduk di bawah di samping beliau, saya terpaku tertunduk malu dan tidak bisa berkata apapun.
  3. Pada saat Habib Umar rawuh mengisi pengajian keluarga besar kami (Brayat) Bani Ali Mursyid di rumah Pak lik Sulthoni, secara eksplisit beliau ngendiko : “Rekki ini seniman, jadi ngajinya ngaji tadabbur alam, kayak pelukis Affandi itu lho, menyaksikan dan mengakui kebesaran Allah SWT lewat renungan keindahan alam, bisa lewat melihat buah jambu tlampok, gunung-gunung dan langit. Bukan lewat ngaji kitab-kitab fiqih. Malah bisa jadi bingung”.

Tadi siang hari Jumat 13 Mei 2022, pukul 13.30, Habib Umar bin Ahmad Bafaqih meninggal dunia. Beliau seorang habib yang memiliki kepribadian sangat indah. Sosok pribadi mengesankan. Allah SWT pastinya akan menempatkan beliau di tempat yang indah pula di sisi-Nya.

Alfatihah.

Rekki Zakkia, Rumah Lumbung Ideologi, Subuh 14 Mei 2022

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.