Aktualisasi Nilai Nilai Pesantren di Era Global

Oleh : Eko David Syifaur Rohman

Pesantren sebagai universitas kehidupan seorang santri semakin menemukan bentuknya dalam mengembangkan nilai nilai islam nusantara. Ajaran pesantren bersinergis dengan islam mampu bermetamorfosis menjadi sebuah universitas inklusif dalam berfikir, terbuka dalam berpendapat serta meningkatkan daya nalar kritis sebagai santri pesantren. Pesantren selama ini tidak menegasikan warisan leluhur seperti bagaimana pola pesantren menjaga tradisi Hindu-Budha. Pesantren dengan tegas menolak penindasan. Pesantren dengan segala ide kreatifnya mampu menyesuaikan dengan problematika zaman. Pesantren dengan semangat egaliterisme menjadi faktor pendorong mewujudkan pendidikan yang memanusiakan. Tentunya, pendidikan menjunjung tinggi nilai-nilai kepesantrenan meskipun terjangan badai budaya pop culture semakin kencang dan lincah. Eksistensi pesantren di tengah arus modernitas tidak bisa dipandang sebelah mata, khususnya terkait aspek relevansi pesantren dengan aspek pendidikan.

Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj dalam buku Tasawuf Sebagai Kritik Sosial Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi mengatakan bahwa mempertanyakan kesiapan pesantren di bidang pendidikan dalam kondisi dunia semakin global memang cukup beralasan. Ini mengingatkan kita semua bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang telah memberikan kerangka pandang yang bersifat fundamental tentang substansi islam. Perjalanan historis pesantren yang cukup panjang menunjukkan bahwa pendidikan di pesantren merupakan pergulatan konsepsional mengahadapi persoalan-persoalan krusial seperti dalam aspek sosial, kultural, ekonomi, politik dan pendidikan, termasuk yang berkaitan dengan masalah-masalah keislaman itu sendiri. Kemampuan pesantren menghadapi tantangan masa lalu ini kemudian mencuatkan posisi pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan alternatif yang masih diharapkan mampu memecahkan problematika masyarakat Indonesia secara umum tanpa terkecuali.

Selanjutnya, kang Said juga menerangkan bahwa pilihan pada bidang pendidikan yang digeluti pesantren selama ini tak lepas dari pemahaman komonitas pesantren itu sendiri tentang islam. Dalam al qur’an, banyak sekali ayat yang secara langsung maupun tidak langsung berbicara tentang pendidikan. Wahyu yang diturunkan pertama kepada Nabi Muhammad adalah surat al ‘Alaq ayat 1-5. Isinya penuh dengan muatan pendidikan yang sangat mendasar. Dalam surat tersebut tampak jelas, tegas dan lugas perintah Allah kepada Nabi Muhammad sekalian ummat manusia untuk membaca. Membaca secara dinamis diartikan sebagai aktifitas pendidikan yang sangat penting. Sementara itu, Nabi Muhammad juga memberikan keteladanan yang demikian agung dalam pendidikan. Nabi Muhammad dikenal sebagai manusia yang tidak pernah berhenti dalam melakukan perenungan terhadap situasi kemanusiaan yang dijumpainya. Dalam diri Nabi juga terkandung nilai-nilai luhur dalam bermoral dan beretika.

Baca Juga:   Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir Sabet Gelar Juara Dunia Kedua

Dengan fokus pendidikan, pesantren dibangun-dikembangkan dengan berlandaskan pandangan-pandangan filosofis tentang berbagai aspek yang terkait secara langsung dengan pendidikan, misalnya tentang manusia, ilmu pengetahuan, moralitas, dan lingkungan. Dinamika yang terjadi di pesantren sejalan dengan perkembangan ruang dan waktu. Dalam kerangka ini, pendidikan islam di pesantren terus berproses dalam pertumbuhan, perubahan, kesinambungan serta pembaruan. Persoalan penting yang harus selalu difikirkan oleh komunitas pesantren pada setiap waktu adalah menjaga kesinambungan pesantren dalam konteks menjawab perubahan zaman. Tegasnya Prof Said dalam bukunya.

Tidak heran, santri meskipun menggunakan simbol pakaian tradisionalis sangat dinamis mengikuti arah laju zaman. Bahkan, hari ini, pesantren dan santri ikut berlomba-lomba dalam menyebarkan kebaikan, keislaman dan konten di media sosial dengan gaya khas santri dan pesantren tentunya. Prinsip fundamental yang dipegang tidak surut dan hilang meskipun kondisi zaman bergerak cepat dengan menawarkan berbagai macam pragmatisme maupun life style terkini. Santri dengan segala keterbatasan media kini bangkit meramaikan jagad media sosial baik online maupun cetak sebagai respon moral dari sebuah tanggungjawab yang diemban di pesantren. Singkat kata, santri jaman Now tidak melulu berkutat pada kitab an sich, melainkan ikut andil dan berperan aktif dalam menjaga kedamaian, persatuan dan kebhinekaan di Indonesia.

Pilihan yang cukup rasional pada masa sekarang menempatkan pesantren sebagai salah satu lembaga atau isntitusi pendidikan berorientasi pada kancah global maupun internasional. Selama ini, munculnya persepsi serta respon pada globalisasi tidak lain merupakan dampak atas maraknya modernisasi di berbagai sisi kehidupan. Dan tidak lengkap jika istilah tersebut tidak disangkut-pautkan dengan transformasi institusional yang berasal dari Barat. Persepsi ini tidak seluruhnya benar khususnya ketika menilik pada eksistensi pesantren sebagai kawah Condrodhimuka para santri. Apa sebab ? dalam dunia pesantren, isu-isu modernitas tidak bisa dilepas dari semangat selalu berkreasi -berinovasi. Paradigma pesantren yang dibangun berlandaskan pada Al Muhafadhatu Al Qadimi Al Sholih Wa Al Akhdu Di Al Jaded Al Ashlah (memelihara yang lama yang baik dan mengambil sesuatu yang baru yang dirasa lebih baik). Maka, pesantren harus melihat bahwa realitas dunia yang semakin modern dan mengglobal itu merupakan gejala yang alami. Dalam konsep agama, kita mengenalnya dengan sunnatullah fil ‘alam. Tegas Prof said.

Baca Juga:   Peran Santri Masa Kini di Era Globalisasi Teknologi

Jika pada masa lalu pendidikan di pesantren menempatkan tradisi sebagai proyek besarnya, maka pada masa kini pendidikan di pesantren harus mampu menjawab tantangan modernitas . sinergi tradisi dengan modernitas adalah proyek pendidikan pesantren masa depan. Artinya, pendidikan pesantren masa depan adalah pendidikan yang berorientasi pada modernitas dengan tetap berpijak pada tradisi yang berlaku. Jika modernitas di Barat mengklaim tidak banyak memiliki keterkaitan dengan periode sebelumnya atau dengan konsepsi budaya lain, maka eksistensi modernitas dalam tubuh pesantren merupakan salah satu mata rantai dari sebuah gugusan peradaban islam sebelumnya. Tulis Prof said dalam buku tersebut.

Sinergi tradisi dan modernitas bukanlah sebuah utopia semata. Sinergitas keduanya merupakan kerja produktif karena pada dasarnya keduanya merupakan respon atas realitas. Sekarang ini sebenarnya telah berlangsung proses dialektika antara tradisi dan modernitas terutama di lingkungan pesantren yang masih kuat mengusung tradisi. Pesantren tersebut pada masa yang akan datang bukan tidak mungkin menjelma sebagai sebuah isntitusi yang dapat diandalkan di bidang ilmu pengetahuan dan bidang teknologi. Pesantren tidaklah apatis terhadap modernitas karena pada dasarnya modernitas bersifat global dan bukan monopoli kelompok tertentu. Artinya, pesantren tradisional yang modern adalah sebuah kekuatan yang luar biasa. Oleh karena itu, kesalahan besae bangsa Eropa adalah ketika ia memberikan citra buruk atas tradisi ketika mereka memasuki masa pencerahan pada abad ke 18. Tulis Prof Said dalam buku yang penuh kontroversialnya.

Diantara bentuk rekonstruksi moral spiritual santri dalam konteks pendidikan yang ada dalam dunia pesantren adalah mengaji. Seorang santri mengaji kepada kiai selaku pengasuh pesantren dengan penuh tawadhu’ serta mencari barokah dari seorang kiai. Pengajian yang dilandasi oleh sikap inklusif serta lapang dada menerima semua materi pelajaran berupa kitab kuning. Oleh karena itu, dalam mengaji khususnya di kalangan pesantren sudah menjadi hal biasa ketika mendiskusikan kandungan kitab kuning dengan penuh filosofis, reflektif dan kreatif.

Baca Juga:   Budaya Persia dalam Samudra Pasai

KH Saifudin Zuhri, Ayahanda Lukman Hakim Saifudin, Menteri Agama Republik Indonesia, mengatakan bahwa  yang dinamakan mengaji adalah belajar pada kiai-kiai yang membuka pengajian di rumah atau di langgar/serambi masjid atau juga di pesantren jika yang bersangkutan memimpin pesantren. Walaupun demikian, kiai ikut mengajar di salah satu pesantren pilihannya, misalnya karena masih memiliki ikatan batin dan kekeluargaan dengan pengasuh pesantren atau karena dulu pernah bersama-sama satu guru mengaji atau satu pesanatren tatkala masih sama sama menjadi santri.

Dalam paparannya, KH saifudin zuhri menjelaskan bahwa mengaji adalah mempelajari ilmu-ilmu islam dari berbagai bidang dengan menggunakan beberapa kitab yang menjadi balagh(kitab pedomannya) nya. Kitab ktab tersebut umumnya disebut kitab koras an. Dinamai kitab koras an karena halaman-halaman dalam kitab tersebut berupa lembaran-lembaran terurai tidak terjilid dengan baik dan masing-masing koras an berisi kurang lebih 8 halaman. Maksudnya agar memudahkan bagi santri yang mengaji cukup membawa korasan yang sedang dipelajari. Pada jaman sekarang, kitab korasan disebut dengan istilah kitab kuning. Wallahu A’lam

 

Share:
Pendidikan Rusak Rusakan - Dawuh Guru

Eko David

Eko David Syifaur Rohman Abdi Ndalem Pesantren Nurul Ummah MBI Amanatul Ummah Pacet Mojokerto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.