Ajaran Cinta NKRI dari Kiai Haji Nur Rohmat

Tahun 2013 M penulis nyantri di Ponpes Al-Isti’anah, Plangitan, Pati yang diasuh oleh beliau Syaikhuna Al-maghfurllah Kiai Haji Nur Rohmat. Selain sebagai Kiai, beliau merupakan anggota Polri dengan pangkat terakhir Brigadir (Punawirawan). Sempat juga menjadi Bintara Pembinaan Mental (Ba Bintal) Subden 4 Den A Pelopor Sat Brimob JATENG. Almarhum pernah mengikuti operasi Saroja Timur pada tahun 1990 M. Atas jasanya tersebut negara memberikan penghargaan satya lencana 8 dan 16 tahun.

Pendidikan ala Militer beliau terapkan untuk membentuk karakter para santri. Pola pendidikan tegas dan disiplin menjadi khas di pesantren tersebut. Beberapa peraturan beliau terapkan di pesantren agar santri tertib, disiplin dan mandiri. Pesantren Al-Isti’anah berdiri sejak tahun 1993 M, atas kegigihan, ketulusan dan keistiqomahan beliau dalam mendidik santri, pesantren tersebut berkembang pesat.

Awalnya pesantren ini hanya mengakaji tentang kitab-kitab turast karya para ulama. Seiring berkembangnya zaman beliau mendirikan pendidikan formal yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) tahun 2011 M dan Madrasah Aliyah (MA) Al-Isti’anah Boarding School tahun 2012 M.  Hal ini menjadikan pesantren tersebut mengajarkan kitab-kitab turast dan sekaligus pendidikan umum (sains, sosial dan bahasa). Para siswa yang sekaligus santri Al-Isti’anah telah diberikan pendidikan mengenai cinta NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Menanamkan cinta NKRI ke dalam hati para santri tidak pernah berhenti beliau upayakan. Setiap pagi sebelum masuk ke ruang kelas, para santri melakukan apel pagi dengan barisan yang rapi dan tertib ala Militer. Di situ para santri diabsen, diperiksa ke-disiplin-annya dan diberi wejangan sedikit tentang pentingnya menuntut ilmu untuk membangun negeri. Mbah yai selalu menyorakkan yel-yel sebagai penyemangat para santri. Kalimat “NKRI Utuh dan Berkesinambungan” menjadi kalimat wajib di dalam yel-yel tersebut, yang dengan serempak dijawab oleh para santri “Amin Ya Rabbal ‘Alamin, Allahu Akbar”.

Dengan ketulusan, penuh semangat dan sederhana beliau memberikan contoh kepada para santri tentang cinta NKRI. Contoh yang sering beliau berikan kepada kami yaitu rutin di-adakannya acara besar nasional di pesantren. Seperti mengadakan upacara untuk memperingati hari-hari besar nasional, lomba-lomba untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme, pembacaan sejarah para pahlawan, do’a bersama untuk keutuhan bangsa dan lain sebagainya. Dengan mengenakan sarung, baju warna putih dan kopyah hitam, para santri menjadi petugas maupun perserta ketika upacara peringatan hari besar nasional.

Di dalam rangkaian acara tersebut para santri sangat senang dan semangat ketika beliau bercerita tentang perjuangan para pahlawan di zaman dahulu. Sering kali beliau bercerita bagaimana peran kiai dan santri di zaman dahulu dalam berjuang mengusir penjajah dan memepertahankan NKRI. Cerita-cerita beliau selalu inspiratif yang mampu membangkitkan semangat para santri dalam menggapai cita-citanya.

Pada suatu malam waktu peringatan Hari Pahlawan Nasional, beliau membacakan manakib pangeran Diponegoro. Dimulai dari kehidupannya di masa kecil sampai melakukan peperangan yang mampu membuat kolonial Belanda mengalami kerugian yang sangat besar. Para santri sangat takjub dengan sejarah pangeran Diponegoro yang beliau sampaikan.

Ada salah satu syair Burdah karangan Imam al-Bushiri yang selalu beliau kutip ketika membacakan manakib pangeran Diponegoro, yaitu “Wiqoyatullahi agnat an mudho’afatin minadduruu’i wa’an ‘aallin minal uthomi”. Syair tersebut dibaca oleh pangeran Diponegoro ketika hendak melewati Rawa Pening yang di belakangnya sudah terkepung oleh kolonial Belanda. Atas pertolongan Allah SWT kuda yang ditunggangi oleh pangeran Diponegoro bisa melewati Rawa Pening dan tidak tenggelam sampai di ujung Rawa. Kolonial Belanda nekat untuk mengejarnya, sampainya di pertengahan mereka tenggelam ke dalam Rawa.

Mbah yai selalu memberikan yang terbaik untuk para santrinya. Beliau telah berhasil menumbuhkan cintai NKRI di dalam hati para santrinya dengan tulus dan sederhana. Penulis sendiri merasakan buah didikannya yang sangat berharga ini. Al-fatikhah untuk Syaikhuna Kiai Haji Nur Rohmat

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *