Oleh : M. Ibram Syah

Allah SWT merupakan dzat yang memiliki sifat Al-Lathif, yaitu dzat yang senantiasa memberikan belas kasih terhadap makhluknya serta memberikan rizki kepada makhluknya pula agar kebutuhan makhluknya dapat senantiasa terpenuhi. Namun, pada dasarnya hal tersebut menunjukan betapa maha kasih sayangnya Allah terhadap makhluknya tersebut. Manusia yang pada dasarnya telah diberikan karunia oleh Allah Ta’ala dengan rizki dan belas kasih dari Allah Ta’ala baiknya senantiasa bersyukur dan menggunkan anugerah berupa rizki tersebut sebaik-baiknya. Semua keberlimpahan tersebut digunakan untuk memenuhi setiap kebutuhan hidupnya bukan untuk memenuhi keinginan dari manusia itu sendiri.

Ketika seseorang memiliki kemampuan, baik secara tenaga, fikiran, maupun hartanya namun di sisi yang lain mereka tidak mau mendayagunakannya untuk memenuhi setiap kebutuhan hidupnya tersebut, maka mereka yang demikian termasuk mendzolimi diri sendiri, kecuali apabila mereka tidak mampu. Ketika seseorang yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya namun mereka justru lebih mengutamakan dan mendahulukan keinginannya maka termasuk bentuk mendzolimi diri sendiri pula, karena sesuatu yang sifatnya sekunder malah diutamakan dan didahulukan ketimbang mendahulukan kebutuhan mereka.

Allah sebagai dzat yang memiliki sifat Al-Latif juga disebut sebagai dzat yang memberikan belas kasih terhadap manusia dengan memberikan pengampunan atas segala kesalahan dan dosa manusia. Apabila terdapat hambanya yang kemudian mengakui segala keluputan, dosa, kesalahan, dan khilafnya dan mereka memintakan ampunan serta bertaubat kepada Allah Ta’ala, maka Allah akan senantiasa mengampuni dan membukakan setiap pintu untuk mempermudah hambanya tersebut meminta dan mengupayakan terpenuhinya kebutuhan hambanya tersebut.

Allah Ta’ala yang telah memberikan setiap apa yang hambanya butuhkan dalam rangka menjalankan dan meneruskan kehidupan mereka, maka manusia sebagai hamba harus senantiasa bersyukur dan berbagi kebahagiaan atas apa yang telah Allah Ta’ala berikan kepadanya. Sering terdengar bahwa “Ad-Dunya Mazro’atul Akhirah”, bahwa dunia ini merupakan lahan atau ladang untuk mencari bekal kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Maka setiap apapun anugerah yang diberikan oleh Allah Ta’ala di dunia ini dapat digunakan sebagai amal akhirat dengan senantiasa meniatkan sebagai amal akhirat. Seperti halnya mencari uang demi memenuhi kebutuhan banyak orang dan kemaslahatan bersama, serta agar nantinya keterpenuhan kebutuhan tersebut dapat digunakan sebagai penghasil energi dan tenaga untuk menguatkan kondisi tubuh agar lebih kuat dalam menjalankan ibadah kepada Allah Ta’ala, maka hal tersebut juga dihitung sebagai amal akhirat.

Sebaliknya, apabila ada amal akhirat seperti ibadah kepada Allah, berbuat baik kepada sesama makhluk hidup, yang hanya diniatkan untuk mendapatkan pujian dari sesama manusia, atau untuk mendapatkan apresiasi dari sesama manusia maka hal tersebut yang asalnya merupakan akhirat justru menjadi amal dunia karena ketidaktepatan niat dan penggunaannya. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk mendayagunakan setiap anugerah dan belas kasih Allah Ta’ala menjadi amal sholeh yang mampu menjadi bekal kehidupan kita di akhirat kelak, amiin.

 

Ngaji Rutinan Malam Jumat

Sumber Kitab Durrotun Naasihin

Fii Fadhiilati Syahri Sya’bana Al-Mu’adzomi

Oleh Bapak Kyai M. Hamzah, S.Pd.I

Kamis, 3 Maret 2022

Rumah Baca Kolong Langit

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.