Abdulrazak Gurnah dan Jangkar Kolonialisme

Abdulrazak Gurnah dan Jangkar Kolonialisme - dawuh guru

Oleh: Damhuri Muhammad

“Nobel sastra 2021 untuk Abdulrazak Gurnah sangat layak bagi penulis yang sebelumnya tidak memperoleh pengakuan,” demikian komentar Alexandra Pringle, mantan editor Gurnah di penerbit Bloomsbury, sebagaimana dikutip www.theguardian.com (7/10/2021). Entah apa yang dimaksud Alexandra dengan komentar ringkas itu, meski setelah pengumuman atas kemenangan novelis muslim-migran asal Zanzibar (kini bagian dari Tanzania) itu, baik di Zanzibar maupun di Inggris (negara yang menampung Gurnah sebagai pengungsi sejak 1960-an) memang tak terlalu riuh oleh hingar-bingar tepuk tangan, dan tak begitu ramai perbincangan.

“Dia adalah salah satu penulis Afrika terbesar yang masih hidup, dan tidak ada yang pernah memperhatikannya dan itu menyakitkan bagi saya. Minggu lalu (sebelum pengumuman pemenang Nobel sastra) saya membuat podcast dan saya mengatakan, dia salah satu orang yang baru saja diabaikan. Dan sekarang ini sudah terjadi,” sambung Alexandra. Sekali lagi Alexandra membuat bingung. Kenapa pemenang Booker Prize lewat novelnya Paradise (1994) diabaikan dan tak mendapat pengakuan? Apakah karena ia pengarang migran, bernasab Arab-muslim dan begitu getol membangun karakter-karakter aneh yang seolah-olah sedang mempertontonkan akibat tak berkesudahan dari jangkar kolonialisme Inggris di Afrika timur? “Mungkin Alexandra bermaksud bahwa saya pantas mendapatkan yang lebih baik. Tapi saya tidak merasa diabaikan. Saya relatif puas dengan pembaca yang saya miliki, tapi tentu saja saya dapat melakukan lebih banyak lagi,” begitu Gurnah menimpali komentar mantan editornya itu, sebagaimana juga dikutip www.theguardian.com (11/10/2021).

Perkara “ketiadaan pengakuan” ini akan selekasnya mengingatkan pembaca pada protagonis anonim dalam novel Gurnah yang lain, Admiring Silence (1996), utamanya ketika ia mendatangi rumah orangtua kekasihnya untuk jujur mengatakan bahwa gadis Inggris pujaannya telah hamil. Sepasang calon mertua Inggris totok itu kemudian membalas pengakuan tersebut dengan tatapan kebencian, karena si laki-laki imigran asal Afrika itu telah menyebabkan putri mereka harus hidup dengan semacam “kontaminasi” dalam sisa hidupnya. Dia tidak akan bisa menjadi wanita Inggris normal lagi, menjalani kehidupan Inggris yang sewajarnya di antara orang Inggris. Begitu cuplikan narasi dari Admiring Silence. Seolah-olah hubungan intim putrinya dengan laki-laki imigran itu telah menyebabkan “darah-biru” Inggris tercemar oleh “darah tak berwarna” dari Afrika timur, dan itu hampir tak dapat diselamatkan.

Kesadaran tentang keterabaian ini juga lumayan terasa pada karakter protagonis Hassan dalam Memory of Departure (1987) yang dikisahkan Gurnah, harus meminta bantuan paman kayanya di Nairobi lantaran merasa permohonan beasiswa pendidikan di Eropa bakal ditolak pemerintahnya sendiri (Tanzania) karena afiliasi etnisnya (Arab-muslim). Perjalanan Hassan ke Nairobi menempati bagian utama novel itu. Di rumah pamannya Ahmed, perasaan sebagai orang asing yang melanda Hassan kian meningkat. Satu-satunya hiburan adalah keterikatannya yang tumbuh dengan saudara sepupunya yang bernama Salma. Setelah akhirnya mengetahui perasaan ganjil keponakannya itu pada Salma, Ahmed mengusir Hassan dari rumahnya. Kembalinya Hassan ke desanya menandai bagian ketiga dari Memory of Departure. Keterasingan dan kehancuran Hassan kian lengkap dan nyaris sempurna.

Memory of Departure diakhiri dengan surat yang ditulis Hassan kepada Salma saat ia berada di atas kapal yang berlayar ke India. Disebut keterasingan dan kehancuran yang lengkap (mungkin tepatnya; sempurna), karena sebelum kedatangan ke Nairobi, Hassan sejatinya sudah hancur. Bagian pertama Memory of Departure menggambarkan masa kecil Hassan yang merepresentasikan kesaksian atas kematian saudaranya yang secara tak sengaja membakar dirinya dengan lilin dalam sebuah acara perayaan. Hassan tidak mampu memberikan bantuan apa pun kepada saudaranya dan kemudian diam-diam disalahkan oleh keluarganya atas kematian itu. Sejak itulah ia hidup dalam kejatuhan tragik keluarganya. Ayahnya berlindung dengan mabuk-mabukan dan pelacuran, sementara ibunya mengurung diri dalam keheningan yang mengerikan. Satu-satunya tempat perlindungan Hassan adalah dermaga kota di mana mimpinya tentang ekspatriat mulai terbentuk.

Migrasi dan perpindahan spasial (baik dari Afrika Timur ke Eropa maupun di lingkup benua Afrika sendiri) tampaknya menjadi inti dari semua karya Gurnah. Impian akademik untuk bersekolah di Eropa juga ditemukan dalam Pilgrim’s Way (1988) yang menggambarkan perjuangan seorang mahasiswa muslim asal Tanzania melawan feodalisme provinsial dan rasisme di kota kecil Inggris tempat ia bermigrasi. Sementara itu, Paradise (1994), yang mempertahankan latar Afrika mengeksplorasi perjalanan Yusuf dari rumah miskin orangtuanya ke rumah mewah milik Paman Aziz, tempat dirinya “digadaikan” untuk membayar utang-utang ayahnya. Begitu juga narator anonim dari Admiring Silence telah membangun kehidupan baru untuk dirinya sendiri di Inggris, melarikan diri dari teror di negara asalnya, Zanzibar. Ia membuat cerita romantis tentang tanah airnya untuk istri dan orangtuanya, yang sudah hancur ketika ia harus kembali ke Afrika.

Abdulrazak Gurnah lahir pada 1948 dan dibesarkan di Zanzibar, di lepas pantai Tanzania. Sejak 1890, negara kepulauan itu telah menjadi wilayah protektorat Inggris.  Berabad-abad sebelum itu, Kesultanan Zanzibar telah menjadi pusat perdagangan, terutama penghubung dengan dunia Arab, dan tempat peleburan kultural bermacam-macam etnis yang berlangsung secara menakjubkan. Ia dibesarkan sebagai muslim (tidak seperti putra terkenal Zanzibar lainnya, Freddie Mercury, yang keluarganya penganut Zoroaster, asal Gujarat). Pada 1963, Zanzibar merdeka, tapi penguasanya, Sultan Jamshid, digulingkan setahun kemudian. Selama revolusi, tulis Gurnah pada 2001, “ribuan orang dibantai, seluruh komunitas diusir dan ratusan lainnya dipenjara. Dalam kekacauan dan penganiayaan yang mengikutinya, teror dendam menguasai hidup kami.” Di tengah kekacauan itu, Gurnah dan saudaranya melarikan diri ke Inggris. “Ini adalah kisah tentang orang-orang yang harus merekonstruksi dan mendaur ulang hidup mereka, jauh dari tempat asal mereka. Ada banyak dimensi yang berbeda untuk itu. Apa yang mereka ingat? Dan bagaimana mereka mengatasi apa yang mereka ingat? Bagaimana mereka mengatasi apa yang mereka temukan? Atau, memang, bagaimana mereka diterima?” kata Gurnah merespons pertanyaan seputar isu perihal kepayahan kaum imigran di Eropa dalam sebuah interview.

Apakah menjadi manusia Eropa setelah mendapatkan suaka politik itu sebuah pilihan atau keterpaksaan dalam situasi krisis? Demikian salah satu pertanyaan penting yang pernah diajukan Sreya M. Datta (2019) peneliti sastra pascakolonial dari University of Leeds, United Kingdom, kepada Gurnah yang tersiar dalam laporan bertajuk Arriving at writing: A Conversation with Abdulrazak Gurnah. Pertanyaan yang tampaknya terkait erat dengan adegan-adegan penting dalam novel By The Sea (2001) dan Desertion (2005). Menurut profesor emeritus bidang bahasa Inggris dan sastra pascakolonial University of Kent itu, karakter Saleh Omar, Latif, Jan dan Elleke dalam By the Sea adalah para pencari suaka yang terdorong oleh macam-macam peristiwa, sementara Desertion berkaitan dengan pilihan atas suaka itu, atau setidaknya apa yang tampak sebagai pilihan. Gurnah tidak mengakui kisah itu berkaitan dengan suaka sebagai tindakan putus asa dalam masa krisis. Karakter Rasyid yang memilih untuk pergi, memang bersemangat untuk pergi, lalu kemudian menyadari apa yang telah ia lepaskan. Sementara Amin memilih dirinya sebagai orang yang setia dan tidak bisa pergi. Nasihatnya kepada Rashid untuk bertahan (tidak pergi) karena itu bagian dari dirinya sebagai orang beriman. Kedua novel itu merefleksikan konsekuensi dari kolonialisme, yang menurut Gurnah memang telah menciptakan apa yang disebut Sreya M. Datta dengan istilah “sistem dunia yang asimetris” (an asymmetrical world system). By the Sea dan Desertion juga tentang bagaimana orang mempertahankan diri dengan cara mereka, meskipun kolonialisme telah menjadi “gangguan” yang tak kunjung lenyap di sepanjang hidup mereka.

Bagi Gurnah, baik sebagai pilihan maupun sebagai keterpaksaan, menjadi imigran tetap tak bisa lepas dari jangkar kolonialisme. Dalam Paradise (1994), Yusuf bertanya-tanya, apakah orangtuanya masih memikirkannya, apakah mereka masih hidup, dan dia tahu bahwa dia lebih suka tidak mengetahuinya. Begitu juga dengan Latif Mahmud dalam By The Sea, yang sejak kedatangannya di Inggris melalui Jerman Timur, tidak pernah menghubungi keluarganya di Zanzibar. Meski Latif ingin melihat ke depan, ia mendapati dirinya selalu melihat ke belakang. Semacam kenyataan pahit yang dinarasikan Gurnah dalam By The Sea sebagai tempat masam, tanah kenangan, gudang remang-remang dengan papan busuk dan tangga berkarat.

Demikian kiranya kegundahan Abdulrazak Gurnah yang sudah puluhan tahun menapak di Eropa, tapi keterasingan sebagai imigran dari Zanzibar tak sungguh-sungguh hilang. Di benua asing itu, tanah tempat berpijaknya senantiasa terasa rapuh, sementara di tanah kelahiran, ia sudah terpelanting sebagai malin kundang, bahkan tak tersisa lagi sepetak tanah untuk sekadar ditapaki sebagai tempat berpulang. Maka, Nobel sastra senilai 10 juta krona Swedia atau setara £ 840.000 itu agaknya sedang mengantarkan Gurnah menuju tempat berpulang yang sejati, yakni menulis, sebagaimana filsuf Jerman Theodor W Adorno (1903-1969) pernah mengungkapkan bahwa bagi seseorang yang tidak lagi punya tanah air, aktivitas menulis akan menjadi tempat ia bermukim. For a man who no longer has a homeland, writing becomes a place to live…

Damhuri Muhammad

Kolumnis

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *