⚡ TERBARU
Quote

Kacamata Keadilan Gus Baha Menilai Keris, ATM, dan HP

Gus Baha mengajak umat berpikir adil dengan membandingkan keris tradisi dan benda modern seperti HP serta ATM, agar tidak mudah menuduh syirik.

7 dibaca 0 dibagikan 5 menit baca
Ilustrasi refleksi Gus Baha mengenai perbandingan membawa keris dan benda modern seperti HP serta kartu ATM

Memahami Batas Antara Tradisi, Ketergantungan, dan Keyakinan

Kehidupan masyarakat kerap diwarnai oleh kebiasaan membawa benda-benda tertentu demi ketenangan batin atau kelancaran aktivitas sehari-hari. Sebagian orang merasa ada yang kurang lengkap atau tidak nyaman ketika bepergian tanpa membawa barang kesayangan atau benda yang dianggap penting. Namun, cara pandang masyarakat dalam menilai kebiasaan tersebut sering kali tidak merata dan cenderung subjektif. Hal ini memicu perdebatan sosial, terutama ketika menyangkut tradisi lokal yang telah turun-temurun diwariskan oleh para leluhur di Nusantara.

Dalam pandangan yang sering disampaikan melalui pengajian, pemahaman mengenai keyakinan harus diletakkan pada tempat yang proporsional tanpa prasangka buruk. Sering kali, simbol-simbol tradisi langsung dihakimi secara sepihak tanpa meneliti akar keyakinan yang sesungguhnya di dalam hati seseorang. Padahal, manusia modern pun tidak bisa lepas dari ketergantungan terhadap berbagai benda mati yang menunjang mobilitas dan kelangsungan hidup mereka setiap hari. Keadilan dalam menilai perilaku sesama manusia menjadi kunci utama agar tidak terjebak dalam sikap mudah menghakimi keyakinan orang lain.

Refleksi mendalam ini mengajak setiap individu untuk merenungkan kembali bagaimana cara menempatkan fungsi benda secara objektif. Antara barang pusaka warisan budaya dan teknologi modern yang melekat pada manusia masa kini sebenarnya memiliki kesamaan fungsi psikologis. Keduanya memberikan rasa nyaman dan kemudahan bagi pemakainya dalam menghadapi berbagai situasi di luar rumah. Oleh karena itu, penting untuk membedakan secara jernih antara ketergantungan fungsional, kebiasaan kultural, dan esensi keyakinan tauhid yang sesungguhnya.

Refleksi Keadilan Berpikir dari Slide Pertama

Berdasarkan sumber visual pada slide pertama, terdapat sorotan terhadap perbandingan menarik mengenai benda yang dibawa oleh dua latar belakang orang yang berbeda. Ada kelompok masyarakat tradisional, khususnya tradisi Kejawen, yang merasa ada ketidaknyamanan jika tidak membawa keris saat bepergian. Di sisi lain, masyarakat perkotaan modern juga merasakan kecemasan yang sama jika tertinggal kartu ATM atau telepon genggam pintar mereka. Perbandingan ini memunculkan pertanyaan mendasar mengapa membawa keris kerap dituduh sebagai tindakan syirik karena dianggap percaya pada makhluk, sementara ketergantungan pada kartu ATM dan ponsel tidak pernah mendapatkan tuduhan serupa.

Analogi sederhana ini membuka ruang dialog yang sangat luas mengenai standar ganda yang kerap digunakan dalam menilai kebiasaan masyarakat. Keris dalam konteks budaya sering kali diposisikan sebagai karya seni, lambang identitas, atau sekadar tradisi turun-temurun yang melekat secara personal. Sementara itu, kartu ATM dan telepon genggam merupakan alat modern yang diandalkan untuk transaksi finansial dan komunikasi jarak jauh. Jika rasa nyaman yang timbul akibat kehadiran benda-benda tersebut dijadikan tolok ukur, maka kedua kelompok sebenarnya berada pada posisi psikologis yang serupa. Keduanya sama-sama merasa terbantu oleh keberadaan benda fisik dalam menjalani aktivitas harian mereka.

Pesan utama dari perbandingan tersebut menegaskan bahwa penilaian hukum terhadap seseorang tidak boleh didasarkan hanya pada wujud fisik benda yang dibawa. Keyakinan hati manusia adalah wilayah batin yang hanya bisa dinilai secara jujur oleh pemiliknya sendiri serta Sang Pencipta. Selama seseorang tetap menyadari bahwa seluruh manfaat, rezeki, dan perlindungan hakiki bersumber dari Allah, maka membawa suatu benda hanyalah perkara kebiasaan atau sarana pendukung. Sikap berhati-hati dalam menuduh orang lain menyimpang dari ajaran agama menjadi cerminan dari kedewasaan berfikir dan keluhuran budi pekerti seseorang.

Mengenal Karya Pustaka pada Slide Kedua

Melangkah pada bagian berikutnya, sumber visual pada slide kedua memperlihatkan informasi mengenai sebuah karya buku bacaan. Buku tersebut berjudul Doa Jalur Langit yang ditulis oleh Ali Adhim dengan subjudul Kumpulan Ijazah & Doa Para Ulama untuk Sukses di Dunia Akhirat. Informasi visual ini juga menyertakan ajakan bagi para pembaca untuk menuliskan komentar tertentu serta memeriksa tautan yang tersedia pada profil pengunggah konten. Kehadiran buku ini melengkapi rangkaian pesan edukatif yang disampaikan melalui media sosial dengan menawarkan referensi bacaan spiritual tambahan.

Pemaparan mengenai buku ini menunjukkan adanya upaya berkelanjutan untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan amalan penunjang kehidupan sehari-hari. Buku doa dan ijazah dari para ulama sering kali dicari oleh masyarakat yang ingin memperdalam sisi spritual guna meraih ketenangan jiwa. Melalui sarana literasi tertulis, pesan-pesan kebajikan dapat diakses secara lebih luas oleh khalayak yang membutuhkan panduan praktis dalam berdoa. Hal ini menunjukkan bahwa media digital masa kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat berdiskusi, tetapi juga jembatan untuk memperkenalkan karya pustaka yang bermanfaat.

Kombinasi antara renungan sosial pada bagian awal dan pengenalan karya tulis pada bagian berikutnya memperlihatkan pola komunikasi yang informatif. Para pembaca diajak untuk tidak sekadar merenungkan teori keadilan sosial dalam menilai sesama, tetapi juga diberi referensi amalan praktis. Keseimbangan antara nasehat moral dan sarana peningkatan spiritual diharapkan mampu membentuk karakter pribadi yang lebih bijaksana. Setiap bagian dalam sumber memberikan porsi pesan yang saling melengkapi demi terciptanya pemahaman keagamaan yang inklusif dan menyejukkan.

Pentingnya Tabayun dan Kebijaksanaan dalam Bersikap

Menghindari sikap mudah menuduh orang lain merupakan salah satu ajaran luhur yang senantiasa dijunjung tinggi dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk. Ketika menjumpai perbedaan kebiasaan atau tradisi yang tidak sejalan dengan kebiasaan pribadi, langkah terbaik yang harus ditempuh adalah melakukan tabayun atau klarifikasi mendalam. Prasangka buruk yang dipelihara tanpa dasar yang kuat hanya akan memicu perpecahan serta merusak kerukunan antar sesama manusia. Oleh karena itu, nasehat mengenai pentingnya bersikap adil dalam menilai sudut pandang orang lain sangat relevan diterapkan di era modern ini.

Kedewasaan beragama diuji ketika seseorang mampu menempatkan porsi antara keyakinan tauhid yang murni dengan keragaman budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat. Tradisi dan budaya Nusantara memiliki corak yang sangat kaya, di mana berbagai benda sering kali digunakan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur. Selama batas-batas akidah tidak dilanggar dan keyakinan hati tetap bergantung sepenuhnya kepada Allah, maka keberadaan tradisi tersebut dapat disikapi dengan bijak. Keterbukaan pikiran semacam ini akan menciptakan suasana sosial yang harmonis, damai, dan jauh dari sifat menghakimi.

Sebagai penutup, refleksi dari perbandingan antara keris, kartu ATM, dan telepon genggam memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya introspeksi diri sebelum menilai orang lain. Manusia modern dengan segala fasilitas canggihnya tidak jauh berbeda dalam hal ketergantungan psikologis terhadap benda mati dibandingkan masyarakat tradisional. Oleh sebab itu, mari terus memupuk sikap saling menghormati, mengedepankan akal sehat, serta merawat keluhuran budi pekerti dalam setiap interaksi sosial sehari-hari.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram

PROFIL PENULIS

Dawuh Guru

Kontributor Penerbit Dawuh Guru.