75 Dawuh Bunyai Penyejuk Jiwa, Pedoman Hidup dan Modal Dakwah yang Santun

75 Dawuh Bunyai Penyejuk Jiwa, Pedoman Hidup dan Modal Dakwah yang Santun

Menurut KH. Husein Muhammad, dalam bukunya yang berjudul Perempuan Ulama di Atas Panggung Sejarah, sebagai pewaris nabi, tugas bunyai atau ulama perempuan Bersama ulama laki-laki ialah melanjutkan misi-misi profetik, menyebarkan ilmu pengetahuan, membebaskan manusia dari system penghambaan kepada selain Allah SWT., melakukan amar makruf dan nahi mungkar, memanusiakan semua manusia, dan menyempurnakan akhlaq mulia demi mewujudkan visi kerahmatan semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Berikut adalah Nasehat-Nasehat singkat atau Dawuh Bunyai Penyejuk Jiwa, bisa dijadikan pedoman hidup, dan juga dijadikan modal berdakwah yang santun dan sejuk :

  1. “Ketika sudah pulang dari pondok, harus mengajar, meskipun muridnya cuma satu, meskipun hanya diajarkan alif, ba, ta.” – Nyai Hj. Rodliyah (PP. Al Falah Ploso)

 

  1. “Tirakatmu menentukan masa depan suamimu.” – Nyai Hj. Noor Khodijah.

  1. “Satu hal yg diharapkan dari seseorang yang nderes itu bukan lancar, namun istiqomah. Apabila yang diharapkan lancar, maka tidak mau istiqomah. Memang istiqomah itu berat, karena hadiahnya karomah. Bila hadiahnya bakwan, ya mudah.” – Nyai Hj Noor Ismah, (Istri KH Ulin Nuha Arwani)

 

  1. “Seberapa besarnya kamu merawat Al-Qur’an, sama saja hidupmu akan dirawat oleh Allah SWT. Makna merawat Al-Qur’an itu termasuk seperti nderes (tadarus) Al-Qur’an, yang artinya kitab Al-Qur’an-nya dibaca tidak hanya dibuat pajangan.” – Nyai Hj. Walidah Munawwir

 

  1. “Jika masih muda, nderesnya dikuat-kuatkan. Hafalan itu kuat di antara usia 17-23 tahun, besok kalau sudah usia 50 tahun ke atas, sudah tua itu pikirannya sudah lemah, tidak seperti masa muda dulu.” – Nyai. Hj. Maknunah

 

  1. “Nyangoni bocah mondok kui paling apik soko hasil bumi.” – Nyai Hj. Chalimah Chodlory

 

  1. “Kalau ada mejlis Al-Qur’an kok acaranya sudah mulai, adabnya ya jangan bicara sendiri tetapi didengarkan.” – Nyai Hj. Hajar Jariyah (PP. Asy-syarifah Mranggen, Demak)

 

  1. “Bisa atau tidak bisa, tetep ndarus, lancar atau tidak lancar, tetap istiqamah.” – Nyai Hj. Zuhriyyah Munawwir

  1. “Orang yang berprasangka baik tapi salah, itu lebih baik dari pada orang yang berprasangka jelek walaupun benar.” – Nyai Hj. Ainiyah Masbuhin Faqih

 

  1. “Sebaik-baiknya amal orang mukmin adalah shalat malam (tahajud). Karena orang munafiq tidak akan pernah melakukannya.” – Nyai Hj. Maimunah Baidlowie

 

  1. “Kalau belajar Al-Qur’an, surah fatihahe diperbaiki dulu. Sebab fatihah itu termasuk rukunnya shalat.” – Nyai Hj. Musyafa’ah Adlan (PP. Walisongo, Jombang)

 

 

  1. “Jika ingin hajat kita dikabulkan Allah, maka Shalawat Nabi 1.000 kali saban hari.” – Nyai Hj. Nadziroh Manshur (PP. Denanyar, Jombang)

 

  1. “Patokan minimal bagi seorang santri (pencari ilmu) adalah pikiran kritis dan hasrat menyala (semangat tinggi).” – Nyai Hj. Khairiyah Hasyim

  1. “Jadi perempuan itu harus cerdas, terampil, dan cekatan. Jangan terlalu kaget dan kagum.” – Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali

 

  1. “Jika seorang perempuan masuk dalam kepemimpinan atau suatu organisasi, Insyaallah akan membawa kebaikan, asalkan kepribadian dan pola pikirnya masih benar-benar feminis.” – Nyai Hj. Ida Fatimah ZA, M.Si. (PP. Krapyak, Yogyakarta)

 

  1. “Ikatan yang memperkuat hubungan antara guru dan muridnya adalah menyebarkan ilmunya dan mengikuti prinsipnya.” – Nyai Hj. Azzah Noor Laila Muhammad

 

  1. “Jika ingin diberi kenikmatan secara abadi, kamu diajarkan untuk membaca dzikir ماشاء الله لاقوة الا باالله. – Nyai Hj. Nawal Nur Arafah (PP. Al-Anwar, Sarang, Rembang)

 

  1. “Jika ingin putra-putrinya hafal Qur’an. Syaratnya orang tua harus ikhlas jika anaknya menghafalkan Qur’an. Lalu orang tuanya mengirimi fatikhah kepada anaknya sehari semalam 100x, dan orang tua juga harus rajin qiyamul lail (tahajjud), berdoa kepada Allah supaya anaknya diberikan kemudahan dalam menghafal Qur’an.” – Nyai Hj. Musyafa’ah Adlan, (PP. Walisongo, Jombang)

 

  1. Bagi yang ingin keturunannya alim dan rezekinya berkah, yaitu ngakeh-ngakehno (memperbanyak) membaca يا فتاح يا رزّاق. “ – Nyai Hj. Khoiriyyah Baidlowi, (Kakak Ipar Kiai Maimoen Zubair)

  1. “Upah kebaktian kita adalah kepada Allah azza wajalla.” – Syaikhah Hj. Rahmah El Yunusiyah, (Reformator Pendidikan Islam)

  1. “Kamu harus bisa ikhlas menerima keadaan, serahkan semua kepada Allah”. – Nyai Hj. Masthi’ah Maimoen Zubair

 

  1. “Jangan urusan dapur melupakanmu untuk berjuang di masyarakat.” -Nyai Walidah Ahmad Dahlan, (Istri Pendiri Organisasi Muhammadiyah)

 

  1. “Jangan takut tidak lancar, tapi takutlah kalau tidak nderes (tadarus). Pokoknya mau nderes (tadarus) ya insyaAllah lancar.” – Nyai Hj. Hannah Zamzami, PP. Al-Baqoroh, Lirboyo, Kediri

 

  1. “Menjadi wanita selain mumpuni juga harus luwes dalam segala aspek.” – Nyai Hj. Lailatul Badriyah

 

  1. “Aku tidak butuh santri yang pintar dan lancar Al-Qur’annya. Tapi aku butuh santri yang Istiqomah dalam belajar, tadarus Al-Qur’an, dan berjamaah.” – Nyai Hj. Nur Halimah, PP. Darul Falah, Jerukmacan, Mojokerto

 

  1. “Jika acara mauludan jajanan (makanan ringannya) yang bagus-bagus, jangan sampai seenaknya. Karena yang ditasyakuri adalah pemimpinnya semua manusia.” – Nyai Hj. Maimunah

 

  1. “Berterima kasihlah kepada guru-guru yang tak pernah lelah memberikan perhatiannya untuk kita semua. Karena nasihat guru ibarat tali kendali yang bisa menyelamatkan hidup kita.” – Nyai Hj. Jazilah An-Nahdliyah

 

  1. “Para santri punya bekal untuk bersaing di media online. Soal teknologi bisa sambil belajar. Pesan saya, jangan ragu, kita harus percaya (pede), media sosial membutuhkan anda semua.” – Nyai Ienas Tsuroiya

 

  1. “Nabi shalallahu alaihi wa salam mencintai Makkah, Madinah, Jazirah Arab sebagai tanah airnya. Kalau kita mencintai Indonesia sebagai tanah air kita, itu artinya kita seperti Nabi shallallahu alaihi wa salam yang mencintai tanah airnya sendiri.” – Nyai Hj. Badriyah Fayumi, PP. Raudlatul Ulum, Kajen Tengah, Pati.

 

  1. “Di dalam agama Islam, bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lainnya. Kaum wanita juga wajib mendapatkan didikan yang selasar dengan kehendak dan tuntutan agama.” – Nyai Djuaesih, Ulama Perempuan Berpidato di Muktamar NU.

 

  1. “Abaikan mereka yang sering mencaci, dan sibukkanlah diri untuk berbakti dalam kebaikan.” – Nyai Hj. Shinta Nuriyah

  1. “Kita tidak pernah tahu amal mana yang akan diterima. Ridho Gusti Allah bisa diberikan pada amal yang nampaknya kecil dan sederhana. Oleh karena itu, ikhlaskanlah berbuat baik kepada sesama makhluk.” – Ibu Nyai Hj. Khusnul Khotimah Warson, PP. Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta

 

  1. “Kalau tidak hafal Qur’an, minimal bacaan Qur’annya lancar, bisa membenarkan orang yang bacaannya sah. Karena belajar Al-Qur’an itu wajib.” – Ibu Nyai Hj. Luthfiyyah Baidlowi

 

  1. “Kita tidak bisa menyatukan manusia dalam agama yang sama, tetapi kita dapat menyatukan umat beragama apapun untuk mengatasi problem kemanusian yang sama.” Nur Rofi’ah, bil. Uzm.

 

  1. Baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam bersabda, ‘Jadilah manusia yang memiliki sifat murah senyum. Jangan jadi manusia yang mrungut (tidak senyum). Jika disapa senyum lah, jangan mrengut, orang pada tidak senang melihatnya. yang melihat tidak senang, Gusti Allah juga tidak senang.’ – Nyai. Hj. Maimunah Baidlowi

 

  1. “Perempuan kalau pintar akan keluar sendiri kecantikannya.” – Nyai Hj. Hasyimah Munawwir, PP. Krapyak, Yogyakarta

 

  1. “Mencari ilmu harus dibarengi tirakat (riyadhoh) dan harus bersedia menanggung kesulitan. Pasti di kemudian hari akan diberikan kemudahan oleh Allah SWT.” – Ibu Nyai Hj. Lailatul Badriyah Djazuli

 

  1. “Obatnya hati itu Qur’an jadi kalau hatinya sedang sakit kembalikan pada Qur’an, bacalah yang banyak biar penyakitnya hilang.” – Ibu Nyai Hj. Siti Rohmah Marzuki

 

  1. “Disiplin terhadap aturan merupakan wujud pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an.” – Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali

 

  1. “Saya hanya bersandar kepada Allah. Tidak pada laki-laki atau yang lainnya. Begitupun dengan para lelaki jangan menjadikan perempuan sebagai tempat bersandar. Cukup Allah sandaran kita.” – Nyai Hj. Masriyah Amva

 

  1. “Siapa saja yang memiliki ilmu harus diajarkan kepada orang lain, meskipun itu ilmu memasak. Siapa tahu dari situ menjadikan amal kebaikan untuk kita, sebab ilmunya bermanfaat.” – Nyai Hj. ‘Ainusy Syifa’

 

  1. “Tidak usah terlalu peduli perkataan orang lain tentang diri kita. Tapi yang terpenting diri kita terus berusaha menjadi orang yang baik dan berbuat baik kepada siapa saja.” – Nyai Hj. Maimunah Badlowi

 

  1. “Karena bejo /bahagia itu tidak ada resepnya, tidak ada undang-undangnya, maka dari itu kita memohon pada Allah agar menjadi bejo /bahagia dunia akhirat. Sebab bejo/ bahagia itu tidak dapat diraih dengan harta, tapi itu adalah pemberian dari Allah.” – Nyai Hj. Ida Fatimah Zainal Munawwir.

 

  1. “Jangan ukur kebahagiaan dengan hal-hal duniawi yang sifatnya sesaat. Ukurlah kebahagiaan dengan seberapa besar ras syukurmu, maka akan kamu rasakan kebahagian yang tak pernah putus-putus.” – Nyai Hj. Jazilah An-Nahdliyah

 

  1. “Ndarus ngaji itu yang ikhlas, karena Allah jangan karena lainnya.” – Nyai Hj. Khotomatul Khoiriyah

 

  1. “Obatnya hati itu Qur’an jadi kalau hatinya sakit kembalikanlah pada Qur’an. Bacalah yang banyak biar penyakit hatinya hilang.” – Nyai Hj. Siti Rohmah Marzuki

 

  1. “Jika ada masalah dalam hidupmu, tanyakan pada keadaan Qur’anmu.” – Nyai Hj. Husnul Inayah.

 

  1. “Sebagai seorang Perempuan harus mengabdi dan beekhidmah. Berkhidmah kepada Suami, berkhidmah kepada keluarga. Tidak usah macam-macam. Dengan niat ibadah, maka dapat pahala besar.” – Nyai Hj. Jazilah Yusuf

 

  1. “Membimbing dan mendidik anak adalah tanggung jawab suami dan istri. Karena keseimbangan proses pendidikan anak didasarkan pada landasan fundamental orang tua.” – Nyai Hj. Azizah Ma’shoem

 

  1. “Saya tidak ingin gelang (perhiasan) yang besar-besar, yang terpenting (bagi saya) anak-anak bisa ngaji semua.” – Nyai Hj. Ma’munatun Kholil.

 

  1. “Setiap kita pasti pernah berdosa. Ketahuan atau tidak, itu hal lain. Jadikan dosa apapun yang pernah kita lakukan sebagai rem untuk merasa lebih baik, apalagi merasa paling shaleh/ shalehah.” – Dr. Nur Rofi’ah, BIL. UZM. Founder Ngaji Keadilan Gender Islam (KGI)

 

  1. “Seseorang yang sudah ada kesenangan ilmu di dalam hatinya, maka dia harus mempunyai 4 tabiat.” 1. Dia harus takut kepada Allah. 2. Dia harus tawadlu terhadap manusia. 3. Dia harus menjauhi dunia. 4. Dia harus memerangi hawa nafsunya. – Nyai Hj. Khoiriyyah Baidlowi

 

  1. “Ulama perempuan memiliki peran yang sama dengan ulama laki-laki dalam memperkuat Islam Washathiyah (moderat) di Nusantara ini.” – Dra. Hj. Badriyah Fayumi, Lc., M.A.,

 

  1. “Ibu adalah sekolah pertama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi yang terbaik.” – Nyai Hj. Lailatul Badriyah Djazuli

 

  1. “Waktu malam itu panjang, jangan kamu perpendek dengan banyak tidur. Waktu siang itu panjang, jangan kamu perkeruh dengan banyak dosa.” – Nyai Hj. Musyafa’ah Adlan

 

  1. “Simbah KH Dalhar Watucongol waktu nikah itu maharnya baca surah ikhlas tiga kali.” – Nyai Hj. Chamimah Zainab

 

  1. “Jangan mudah puas dengan apa yang sudah dicapai, perjalanan ke depan masih panjang.”- Nyai Hj. Ida Fatimah Zainal

 

  1. “Jangan malu kalau miskin. Tapi malulah kalau kamu banyak berbuat salah pada orang lain.” – Nyai Hj. Musyarofah Murtasim

 

  1. “Di balik kesuksesan seorang suami, selalu ada peran dan doa dari seorang istri yang setia menemani menuju kesuksesan.” – Nyai Hj. Shobibah Nawawi Siradj

 

  1. “Apa yang kita tanam hari ini pasti akan kita petik hari esok, tanamlah kebaikan terus menerus.” – Nyai Hj. Sity Badiah

 

  1. “Hidup mulia karena doa. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam bersabda: doa adalah senjatanya orang beriman, tiangnya agama dan cahayanya langit dan bumi.” – Nyai Hj. Ainur Rohmah

 

  1. “Bukan karena kita pandai, bukan karena kita pintar, bukan karena kita bisa, tapi karena kita diberi anugerah oleh Allah untuk menghafal Qur’an.” – Nyai Hj. Nurul Isnaini Febriarini

 

  1. “Perjalanan hidup tergantung pada caramu berpikir dan bagaimana ucapanmu juga tingkahmu. Hidup ini memiliki jalur dan rambu (agama dan Allah adalah tempat kembali).” – Nyai Hj. Azzah Noor Laila Muhammad.

 

  1. “Yang terpenting dijaga Qur’annya, jangan khawatir jika hidupnya tidak terurus, Allah tidak akan bikin sengsara orang yang menjaga Al-Qur’an.” – Ibu Nyai Hj. Rubi’ah

 

  1. “Wanita yang pintar belum tentu sholikhah, Tapi wanita sholikhah sudah pasti pintar.” – Ibu Nyai Hj. Siti Sutijah Thowaf Muslim.

 

  1. “Dunia itu tidak kekal, pasti akan rusak. Tapi iman yang ada di dalam hati itu kekal dan kelak akan menjaga diri kita.” – Ibu Nyai Hj. Musyafa’ah Adlan

 

  1. “Salah satu janji ilmu adalah menjadikan manusia sebagai pelayan bagi orang yang telah memperjuangkannya/ melayaninya.” – Ibu Nyai Hj. Lailatul Badriyah Djazuli

 

  1. “Merasakan kesulitan di masa muda itu penting. Karena dari kesulitan hari ini akan ada manisnya kesusksesan di masa depan.” – Ibu Nyai Hj. Jazilah An-Nahdliyah

 

  1. “Kalau niatmu baik, insyaAllah kamu dikelilingi oleh orang-orang baik.” – Ibu Nyai Hj. Siti Mutiah

 

  1. “Jika kepribadiannya utuh dan jiwanya sehat, maka ia akan menghadapi semua masalah itu dengan tenang.” – Syaikhah Dr. Zakian Daradjat

 

  1. “Carilah suami yang alim mbak, yang bisa ngaji. Nanti kalo ada masalah-masalah musykil. Tidak perlu jauh-jauh kepada orang lain. Cukup kepada suaminya sendiri. Saya itu kalo ada masalah apapun. Bertanya kepada Abah.” – Ibu Nyai Khodijah Al-hafidzah

 

  1. “Karena dengan ilmu, maka kita akan dapat menggapai segala sesuatu.” – Ibu Nyai Hj. Sholichah Wahid

 

  1. “Meskipun sudah menjadi alumni jangan sampai lupa sama pondoknya. Dan apa saja profesimu jangan sampai lupa mendoakan guru-gurumu dan mendoakan kedua orang tuamu dengan istiqomah.” – Ibu Nyai Hj. Siti Sutijah Thowaf Muslim

 

  1. “Perbedaan itu untuk mengajarkan kita menyikapi orang lain dengan bijak, tidak untuk menang sendiri. Karena selamanya perbedaan itu akan selalu ada.” – Nyai Hj. Azzah Noor Laila Muhammad

 

  1. “Apa yang kita tanam hari ini pasti akan kita petik hari esok, tanamlah kebaikan terus menerus” – (Nyai Sity Badi’ah)

 

75 Dawuh Bunyai Penyejuk Jiwa di atas dikumpulkan oleh Tim Redaksi Dawuh Guru, yang bersumber dari Instagram Ulama Perempuan Center. Semoga bermanfaat. amin

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *